Tumbuh Kembangkan Jiwa Anak dalam Aura Surgawi

January 28, 2008 at 8:34 am | Posted in Coretankoe | Leave a comment

Eramuslim 11/10/2005 10:50 WIB
Anak dapat menjadi permata hati, tapi juga bisa menjadi musuh, maka bimbinglah anak untuk miliki karakter shalih, agar menjadi pembuka jalan surga. Menurut Ustadz Hilman Rosyad Syihab ahli syariah alumnus Islamic University of Madinah. Ada enam kewajiban orangtua terhadap anak antara lain:

Pertama, mengharapkan kehadiran anak dalam konteks normal, halal dan Islami. Artinya orangtua harus benar-benar menyiapkan diri, baik secara mentalitas, intelektual, fisik dan materi untuk menyambut kelahiran anak-anaknya.
Kedua, memberi nafkah dengan harta yang halal dan nafkah tersebut bermanfaat untuk perkembangan jiwa anak. Orangtua tidak boleh memberikan sesuatu kepada anak secara berlebihan, meskipun ia mampu.
Ketiga, mendidik secara Islami melalui contoh pembiasaan, penanaman nilai dan proporsional dalam memberikan hukuman dan hadiah.
Keempat, menunjukan kasih sayang dengan cara yang tepat.
Kelima, selalu mendoakan anak dengan doa yang baik.

Ikuti model Luqman (QS33;12-19)
. Ajari anak bersyukur kepada Allah SWT, karena hakikatnya syukur itu untuk diri sendiri.
. Ajari anak menjauhi syirik karena itu adalah kezaliman besar
. Ajari anak menghormati ibunya yang telah mengandung dengan susah payah, lemah dan bertambah-tambah selama 9 bulan.
. Ajari anak menghormati kedua orangtua, karena keridhaan Allah ada pada keridhaan orangtua.
. Ajari anak untuk menolak perintah orangtua yang salah dengan cara yang bijak.
. Ajari anak untuk mendirikan sholat dan berdakwah serta bersabar terhadap penderitaan di medan dakwah.
. Ajari anak untuk menjauhi sikap sombong, angkuh, meremehkan orang lain, memalingkan muka, memandang rendah orang lain, dan tidak mau bertegur sapa.
. Ajari anak sifat kesederhanaan, tampil dengan wajar tidak membuat resah orang lain, tidak menyebabkan orang lain sakit hati.
. Ajari anak melunakan suara dan pandai berkomunikasi, namun jangan banyak bicara yang tidak bermakna dan jangan jadi pembual.

Jauhilah sikap yang memandulkan jiwa anak

Untuk menjaga fitrah anak, jauhilah hal-hal yang dapat mengerdilkan jiwanya, misalnya:

1. Melarang anak mengekpressikan emosinya seperti protes, menangis, gembira, menyanggah dan lain-lain.
2. Melarang anak mempertanyakan keputusan orangtua.
3. Melarang anak bermain dengan anak dari keluarga yang mempunyai pandangan dan nilai berbeda.
4. Melarang anak berisik dan menolak gagasan anak
5. Terlalu ketat mengawasi dan mendeteksi kegiatan anak, dan terlalu menekan dan memaksa anak untuk menyelesaikan tugas.
6. Terlalu intervensi dan memberikan saran spesifik dalam penyelesaian tugas anak.

Pengaruhi jiwa anak

Anak memiliki karakter emosi yang belum stabil, karena mereka masih dalam tahap pertumbuhan emosi. Oleh karena itu pengaruhi jiwa anak dengan cara:

. Jadilah sahabat dan teladan baginya, tumbuhkan rasa percaya diri pada anak dengan memperkuat kemauan anak, menumbuhkan kepercayaan sosial, kepercayaan ekonomi dan bisnis.

. Perhatikan kecenderungannya, angkatlah potensinya, dan perbaiki kelemahannya. Latih mereka dengan memberi tugas sesuai dengan usianya, bertahap dan tidak mencercanya ketika mereka salah.

. Dengarkan anak secara reflektif, hargai perasaannya dan tunjukan bahwa kita memahami perasaan anak, tampakan bahwa kita benar-benar menyimak apa yang dikatakannya, ulangi apa yang dia ucapkan, ekspresikan bahwa kita
sedang memikirkan perasaannya, berikan respon positif dan berikan umpan balik dengan nasihat.

. Perbanyak kegiatan yang mengembangkan permainan, cerita dan buku-buku fiksi ilmiah, lukisan, hiasan, drama anak-anak seusianya, kegiatan ekstrakurikuler, membaca buku dan menyalurkan hobinya.

Jika orangtua mampu menghadirkan aura surgawi dalam proses pendidikan anak, yakinlah anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi berjiwa besar dan berkarakter insan kamil. Mereka tidak rentan terhadap pengaruh buruk lingkungan, bahkan mereka dapat menjadi generasi pendobrak kemaksiatan di muka bumi.***

Farida Shafa Aryanti Hasan

January 19, 2008 at 5:06 am | Posted in My Family | Leave a comment
Ini dia putri cantikku, lahir di malang 21 Juli 2007. Senyum dan tangisnya selalu kebayang di pelupuk mataku. Apalagi kalo pas minta nenen aduh gak sabaran banget, pinginnya cepet2 kalo gak buruan nangisnya tambah dikencengin sama dia, ternyata adek kecil pinter juga tuh..:). Tiap hari adek gak pernah luput dari godaan mas, kadang di towel pipinya, di cubit tangannya, tapi adek gak pernah nangis, tau kali ya kalo mas nya ngajak becanda. Adek cepet besar ya, biar bisa main sama mas.

Hilmi Hadiyan Athori

January 17, 2008 at 3:47 am | Posted in My Family | Leave a comment

Ini dia jagoan dan pangeranku, lahir di Malang tepatnya 12 Agustus 2004. Sekarang udah hampir 3,5 tahun. Badannya yang super jumbo selalu bikin aku gemes dan always pingin cepat pulang kerja aja. Klo aku dah sampe dirumah pipinya yang tembem tak pernah lepas dari jamahan tangan nakalku, sampai dia jejeritan terus bales pukul ibunya. Dia paling doyan makan dan minum susu, Alhamdulillah….disaat banyak orangtua yang bingung karena anaknya gak suka makan, anakku gak dipaksa malah minta sendiri, sekarang hilmi udah pinter makan sendiri walaupun masih berantakan nasinya. Paling doyan makan mie dan bakso, itu kali ya ….yang bikin badannya tambah ndutz….:)

Menjadi Ratu

January 12, 2008 at 7:08 am | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Karya : Ary Nur Azizah

Ah, siapa bilang menjadi ibu rumah tangga itu membosankan, bahkan membuat stres? Tidak benar lah itu!

Setidaknya, itu yang saya rasakan saat ini. Selepas saya resign dari sebuah kantor, saya kini tinggal di rumah. Ibu rumah tangga, demikian gelar yang saya sandang. Orang bilang tanpa gaji. Tapi saya yakin, insyaAllah, saya mendapatkan lebih dari sekedar gaji.
***
Benar. Memutuskan untuk sampai di titik ini adalah sebuah perjuangan berat. Saya bahkan rela “berpisah” dari suami, sendiri di rantau dalam kondisi hamil dan dengan seorang balita pula. Saya keukeuh mempertahankan status sebagai seorang wanita karir masa itu. Meski beberapa kali anak menyatakan kangen dengan sang ayah, hati saya tetap tak bergeming.

Saya menyukai peran saya sebagai ibu sekaligus perempuan yang berkarya di luar rumah. Sungguh nikmat! Saya mendapatkan gaji tetap setiap bulannya, yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan semua keinginan hati. Saya juga banyak membantu ekonomi rumah tangga, setidaknya, begitu ungkap tulus si ayah, panggilan saya untuk suami tercinta. Belum lagi lambaian tangan si sulung dan doa yang mengalir dari bibir mungilnya, ketika saya berangkat ke luar kota. Hmmm, sungguh sebuah perpaduan indah yang tidak ingin saya tanggalkan.

Seiring berjalannya waktu, si sulung mulai belajar protes. Dia enggan ditinggal sendiri. Seperti kawannya di TK, ia ingin diantar mama. Mau main sama mama. Ingin selalu bisa tidur bareng mama. Tidak mau mama pergi keluar kota, apalagi sampai menginap. Sebagai ibunya, tentu saya tidak bisa mengacuhkan permintaan bocah kecil saya. Otak mulai berpikir untuk membujuknya melupakan keinginan-keinginan mustahil itu. Bagaimana pun, saya masih ingin menjadi wanita karir. Masih mau terus keluar rumah tiap pagi, dan pulang sore hari dengan membawa oleh-oleh untuk buah hati. Masih ingin menikmati rasa ‘diakui lebih’ oleh masyarakat sekeliling.

Lantas suatu ketika saya berandai-andai. Jika saya resign, tentu hilang semua kenikmatan itu. Tentulah saya tak lagi dapat menebus segala ingin hati dengan uang yang saya dapatkan secara mandiri. Pasti saya akan nampak kurus kering, lusuh, kumel… dan tak lagi chic! Saya juga akan stress karena hilang 8 jam kesibukan yang biasa saya kerjakan di kantor. Saya akan kehilangan masa untuk terus mengembangkan diri. Saya akan nampak amat ketinggalan zaman ketika bergabung kembali bersama kawan-kawan dekat yang masih menjadi wanita karir. Hiii! Saya ngeri membayangkan semua itu. Maka mulailah saya melancarkan jurus jitu. Saya bawakan kue dan mainan kesukaannya, lalu saya pun memintanya untuk tak lagi merengek. Saya katakan padanya: mungkin semua kue dan mainan ini tak lagi akan menjadi oleh-oleh setiap sore jika mama tidak bekerja. Dia pun menurut.

Beruntung! Protes berikutnya yang ia lancarkan, membuat saya berpikir seribu kali untuk tetap melanjutkan niat saya. Suatu sore, selepas mengantar si ayah berangkat kembali ke kota tempatnya bekerja, anak saya berlari menuju kalender yang tergantung di dinding kamar. Sambil komat-kamit, jarinya sibuk menunjuk angka-angka yang berderet di bulan
Desember 2006, waktu itu. Sebelumnya saya tidak paham apa maksudnya.

Tapi kemudian, jantung saya serasa berhenti berdetak saat ia, dengan suara lantang mengatakan, “Alhamdulillah, kurang tiga puluh hari lagi ayah datang! Asyik, nanti kalau ayah datang kita mau ke mana, Ma?”
Saya tak lagi bisa berkata-kata. Segera saya rengkuh sang buah hati. Memeluknya dengan erat hingga ia tertawa. Mungkin, ia geli dengan sikap mamanya.

“Maafkan mama, Nak! Mama janji, mama akan segera atur supaya Iq dan adik, bisa terus bertemu mama. ” Janji itu pun terlontar tanpa pemikiran panjang. Ya, demi mereka, putra saya dan adiknya yang baru berusia dua bulan, saya harus meninggalkan semua yang semula saya anggap sebagai sebuah kenikmatan.

Maka saya pun segera mengatur langkah, supaya dapat meninggalkan kantor pada saat yang tepat tanpa menyisakan tugas dan kewajiban. Tekad saya tak lagi pasang surut! Saya menafikan semua penyesalan orang sekitar ketika saya ungkapkan rencana saya.
“Ih, sayang sekali kalau harus keluar kerja. Sekarang mah susah cari kerjaan, jangan keluar atuh, Neng!” mayoritas mereka mengatakan hal ini. Sayangnya, hati saya sudah bulat. Masa depan dua anak kami adalah alasan terkuat. Dan itu teramat sangat penting. Dengan mengucap basmalah, saya azzamkan untuk memulai pemikiran baru tentang seorang ibu rumah tangga.
***
Dan sekarang, insyaAllah semua kekhawatiran saya benar-benar tak mewujud. Meski saya tak lagi melihat kekaguman dari lawan bicara ketika saya bilang saya adalah ibu rumah tangga yang sehari-hari di rumah, sekali lagi saya katakan bahwa semua ketakutan saya tidak beralasan.

Saya masih bisa tampil chic. Masih bisa menambah wawasan dan mengembangkan diri, meski bukan di sebuah lembaga resmi bernama kantor. Saya tidak pernah kebingungan menghabiskan waktu karena seluruhnya telah tercurah untuk dua jundi yang semakin beranjak besar. Saya bisa menggeluti hobbi! Bahkan, kata si ayah, saya nampak semakin cantik kian hari.

Walaupun saya tak lagi menerima gaji tetap, ternyata, rizki saya tidak berkurang. Allah alirkan lebih malah, melalui peluh si ayah. Kini, saya serasa menjadi ratu!

Oleh karena itu, di akhir tulisan ini izinkan saya luapkan syukur dan terima kasih terdalam, untuk Allah Yang Maha Pemurah. Dialah pembuka pintu hati yang tertutup rapat kala itu, hingga dengan mudah janji terucap.
Juga terima kasih, kepada dua malaikat kecil yang selalu menghiasi hari dan menjadi semangat menyala dalam hidup saya.
Si ayah yang selalu mendorong untuk terus maju, dalam berpikir dan bertindak, serta terus mencintai saya dengan tulus, karena Allah. Pun kepada keluarga besar, yang senantiasa hadir dengan doa dan dukungan dalam setiap denyut nadi saya.

Subhannallah… Alhamdulillah… Allahu Akbar

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.