Para Pencerah dari Kegelapan

May 8, 2008 at 1:18 am | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Jawapos, Kamis, 08 Mei 2008,

.

Sekolah luar biasa membutuhkan guru-guru yang luar biasa. Di Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya, ada beberapa guru yang lebih dari luar biasa. Meski tunanetra, mereka mampu berbuat jauh lebih dahsyat dari guru-guru kebanyakan. Memberi pencerahan walau hidup dalam kegelapan.

Zainul Muttaqin, 38, mengawali harinya dengan penuh semangat. Dia berjalan kaki dari rumah kosnya di Jalan Kedung Klinter Surabaya menuju Sekolah Dasar Luar Biasa-A Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Jalan Tegalsari. Dengan bantuan tongkat, guru tunanetra itu berjalan sekitar 300 meter menuju sekolah tempatnya mengajar.

Zainul merupakan salah seorang di antara sejumlah guru luar biasa di YPAB. Mulai tingkat TK sampai SMA, ada 15 guru tunanetra di sekolah tersebut. Sebanyak tiga orang masuk kategori low vision, 12 lainnya -termasuk Zainul- buta total.

Meski hidup dalam kegelapan, Zainul dan beberapa guru tersebut punya kemampuan untuk memberi pencerahan lebih daripada guru-guru kebanyakan. Mereka bukan hanya mampu “mengalahkan” keterbatasan, mereka terus mendorong diri, meningkatkan kemampuan hingga tingkat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Bandingkan saja Zainul dengan guru-guru kebanyakan. Zainul menyandang gelar master. Padahal, sangat jarang guru yang mengenyam pendidikan hingga S-2. Biasanya hanya kepala sekolah yang punya gelar master.

Bukan hanya itu, Zainul sekarang berkutat dengan siswa-siswa yang memberi “tantangan ganda”. Bukan sekadar tunanetra, siswa-siswa yang berada di bawah panduan Zainul juga tergolong tunagrahita atau terbelakang mental.

Kesabaran saja tidak cukup untuk menjalani pekerjaan sehari-hari Zainul. Butuh ketekunan dan kreativitas tinggi untuk melakukannya.
***
Zainul tidak lahir buta. Lahir di Ponorogo, 26 Januari 1970, dia sempat melihat terangnya dunia hingga usia enam tahun. Saat itulah bencana menimpanya dan kakak kandungnya, Mohammad Ahyar, yang tiga tahun lebih tua.

Saat itu, layaknya anak kecil lain, Zainul sangat senang bermain petasan karbit. Celaka, salah satu petasan itu meledak lebih cepat dari perkiraan. Percikan api mengenai wajah Zainul dan sang kakak. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit di Ponorogo.

Sayang, mereka tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Dokter hanya memperhatikan luka yang di luar saja (wajah). Akibatnya, ketika mata Zainul dan sang kakak mulai mengalami gangguan, kondisinya sudah parah. Karena terlambat penanganan, mereka pun menjadi buta.

Kehilangan penglihatan bukan berarti kehilangan semangat. Zainul terus berupaya mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Untuk mendapatkan pendidikan sebaik mungkin, Zainul pindah ke SLB-A Jogjakarta. Dasar pejuang, dia berhasil masuk SMP dan SMA umum di Jogjakarta. Hingga akhirnya dia lulus dari Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta, pada 1997.

Sejak masuk kuliah itu pula Zainul punya cita-cita menjadi seorang guru. Khususnya guru anak-anak tunanetra. Dia ingin menolong anak-anak lain yang senasib dengannya. “Saya yakin, guru-guru buta dapat lebih memahami kebutuhan para siswa tunanetra,” ucapnya.

Hanya saja, cita-cita mulia itu tak bisa didapat dengan mudah. Dua kali dia mengikuti tes menjadi guru, dua kali pula dia ditolak. Menurut Zainul, pada 1997-1998, guru-guru buta memang hampir tak memiliki tempat.

Sempat putus asa, empat tahun lamanya Zainul berlabuh di Jakarta (1999-2002). Dia bekerja di sebuah perusahaan pengiriman barang. “Cukup lama saya bertahan di sana. Bekerja di bagian credit control yang mengurusi tagihan pembayaran pengiriman,” kenangnya.

Baru pada 2002 impian Zainul menjadi kenyataan. Dia mengikuti tes masuk pegawai negeri sipil (PNS) di Bandung. Diterima, dia ditempatkan di SDLB-A YPAB Surabaya.
***
Ketika kali pertama mengajar di Surabaya, Zainul mengaku metode-metodenya biasa-biasa saja. Seperti kebanyakan guru, dia memakai metode ceramah atau “asal anak bisa”. Tapi, lama-kelamaan dia menyadari bahwa kualitasnya harus ditingkatkan. Anak-anak yang dia tangani menuntut cara-cara yang lebih baik. “Saya sadar, saya tidak bisa membawa mereka menuruti metode saya,” ujarnya.

Setelah tiga tahun mengajar, pada 2005 Zainul meninggalkan Surabaya untuk sementara. Mengejar gelar master di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Dia termasuk beruntung, mendapatkan beasiswa dari Indonesian Development Program dan Helen Keller International. Sesuai keinginan, Zainul mengambil jurusan pendidikan kebutuhan khusus dengan konsentrasi pendidikan inklusi.

“Di kampus, saya mendapatkan banyak pengetahuan mengenai anak-anak berkebutuhan khusus itu,” ujarnya.

Lulus pada pertengahan 2007, Zainul pun kembali ke Surabaya. Kembali melanjutkan tugasnya di SDLB-A YPAB. Dengan ilmu baru yang dimilikinya, Zainul pun mengucapkan salam perpisahan kepada metode belajar ala Plato yang hanya bisa berceramah dalam menerangkan pelajaran kepada anak-anak didiknya.
***
Dengan modal ilmu baru, Zainul mendapatkan tantangan luar biasa. Dia tidak hanya mengajar agama Islam untuk kelas 3 sampai kelas 6, dia juga diminta untuk menjadi wali kelas 2.

Di kelas 2 itu, siswanya memang hanya dua orang. Tapi mereka juga memiliki cacat ganda (double handicap). Bukan sekadar tunanetra, kedua anak itu juga tergolong tunagrahita atau terbelakang mental.

Zainul sadar betul beratnya tantangan itu. “Guru normal mungkin agak segan mengajar anak-anak seperti itu,” ucapnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, kesabaran dan kreativitas Zainul pun diuji. Dua siswanya sama-sama membutuhkan perhatian istimewa. Mereka adalah Anggrid Rizeka Praningdyah, 11, dan Eliezer Selwyn Horman, 10.

Anggrid adalah bocah yang ceria. Tapi menurut Zainul, terkadang dia malas dan mood-nya ngalor-ngidul. Yang lebih susah, dia tak suka menjawab ketika ditanya, meskipun sebetulnya dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan. Anggrid lebih memilih untuk menceritakan hal-hal lain yang tidak ditanyakan.

Tak heran, sebelum ditangani Zainul, selama lima tahun belajar di sekolah itu, Anggrid masih duduk di kelas 2 dan baru bisa menghafalkan dua huruf braille saja.

Kalau Eliezer agak berbeda. Dia suka sekali membeo. “Dia mengoceh setiap saat dan selalu menirukan kata-kata saya,” ungkap Zainul.

Lalu, bagaimana Zainul mengatasi tantangan terberat seorang guru ini? Dia memanfaatkan “kelemahan” kedua siswanya, mengubahnya menjadi kelebihan.

Anggrid, yang suka bercerita hal-hal di luar pertanyaan, malah dijadikan Zainul sebagai “narasumber.” Dia berusaha membuat ocehan-ocehan Anggrid menjadi lebih terstruktur dengan menyelipkan pertanyaan-pertanyaan. Sehingga, saat mengoceh, Anggrid juga dipaksa berpikir keras.

Misalnya saat Anggrid asyik bercerita tentang keinginannya untuk mengunjungi teman-teman. Zainul mengarahkan alur cerita Anggrid. “Anggrid naik apa ke sana? Sampai di sana mau tanya apa?” kata Zainul.

Mau tak mau, Anggrid yang mengoceh juga dipaksa berpikir untuk membuat ceritanya lebih komplet dan runtut. “Saya naik mobil Pak,” jawab Anggrid.

Supaya Anggrid cepat hafal huruf-huruf braille, Zainul menggunakan metode bernyanyi. Dia membuatkan lagu khusus untuk sang murid, melafalkan tempat-tempat titik huruf braille berada. “A titik satu, B satu dua, C satu empat, D satu empat lima…” dendangnya diikuti Anggrid.

Dengan metode itu, hanya dalam beberapa bulan, Anggrid sekarang sudah dapat menghafalkan huruf hingga “S.”

Sedangkan untuk kasus Eliezer, kebiasaannya menirukan ucapan-ucapan Zainul dimanfaatkan sebagai ajang belajar menghafal. Zainul memasukkan poin-poin pendidikan, seperti, “Wortel mengandung vitamin A. Jeruk mengandung vitamin C.”

Dan benarlah, Eliezer langsung mengulangi persis kata-kata yang diucapkan Zainul. “Eliezer cepat hafal kata-kata yang diucapkan berulang-ulang,” tuturnya.

Tentu, di luar pendidikan akademik, Zainul tak lupa memasukkan nilai-nilai etika kepada para siswanya. Misalnya cara bertutur, bergaul, dan menghormati orang lain.

Anak-anak tunanetra, misalnya, harus diajari cara menguap. Sebab, mereka tidak bisa melihat dan mencontoh bahwa saat menguap sebaiknya mulut mereka ditutup.

“Anak-anak cacat biasanya diperlakukan berbeda dalam keluarga. Mereka cenderung dibiarkan melakukan apa pun walau salah. Itu tidak benar,” kata Zainul.

Jadi, di sekolahlah Zainul dapat beraksi mengajari cara bertutur yang sopan dan baik. Ketika Eliezer berteriak misalnya, Zainul langsung mengingatkannya untuk memelankan suara.

Sebab, target Zainul tak hanya membuat mereka menjadi pandai. Tapi juga membuat mereka mampu bersosialisasi. Zainul ingin siswanya kelak mampu menembus sekolah-sekolah umum. Dan mampu mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

***
Puaskah Zainul dengan segala yang dicapainya? Pria yang punya hobi browsing situs-situs pendidikan itu mengaku ingin terus meningkatkan diri.

Saat ini, dia sedang memasukkan aplikasi beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di S-3. Dia melamar di jurusan yang sama (pendidikan inklusi) di kampus yang sama (Universitas Pendidikan Indonesia Bandung).

Kebutuhan anak-anak istimewa tersebut ingin terus dia pahami, supaya dia bisa menjadi guru yang lebih baik lagi. “Saya tak akan melepas profesi saya sebagai guru. Saya merasa memiliki dasar sebagai pendidik,” tuturnya. “Ditawari profesi lain, dengan bayaran setinggi apa pun, saya akan tetap mempertahankan posisi saya sebagai guru,” tegasnya. (anita rachman/aza)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: