Bayi Jangan Langsung Dimandikan Setelah Lahir

August 1, 2008 at 2:01 am | Posted in Bayi & Balita | Leave a comment

Penelitian di Swedia baru-baru ini memperlihatkan bayi yang diletakkan di dekat puting ibunya segera setelah lahir memiliki respon menyusui yang lebih baik, dibandingkan bayi yang dibersihkan lebih dahulu. Kondisi itu sangat menguntungkan sang bayi karena tidak saja mendapatkan kolostrum dari ASI –yang kaya zat gizi untuk kekebalan tubuhnya– tetapi juga melatih refleks menyusunya dengan benar.

Dalam sebuah tayang video disajikan bagaimana bayi baru lahir itu diletakkan di samping puting ibunya mampu menggerakkan tangan dan kakinya untuk mendapatkan puting ibunya. Begitu didapat, bayi dengan cepat membuka lebar mulutnya, lalu menyusui tanpa dibantu tangan ibunya. Setelah 10 menit bayi kemudian dibersihkan, kemudian diletakkan kembali ke dada ibunya. Refleks menyusunya sangat cepat dengan menggunakan tenaganya sendiri.

Sementara bayi yang dibersihkan setelah lahir, lalu diletakkan disamping puting ibunya tidak  memperlihatkan respon atas puting ibunya. Meski sudah diletakkan diatas puting, bibir si bayi hanya diam saja. Keinginan menyusu dari bayi baru terjadi 10 jam kemudian, itupun harus dipandu sang ibu karena bayi kesulitan mendapatkan puting ibunya sambil menangis.

“Jika begitu lahir bayi langsung dimandikan, refleks menyusu ini langsung hilang 50 persen. Jika bayi lahir dengan operasi Caesar dan langsung dimandikan, refleks itu 100 persen hilang,” kata Ketua Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli mengomentari tayang yang menarik itu dalam sebuah diskusi tentang ASI, di Jakarta, Jumat (30/7) sehubungan dengan peringatan peringatan Pekan ASI Dunia 2004 yang jatuh pada 1-7 Agustus.

Penelitian terbaru itu, menurut dr Utami Roesli, seharusnya bisa mematahkan prosedur persalinan yang selama ini langsung membersihkan bayi segera setelah dilahirkan. “Bila melihat efek yang luar biasa pada bayi, kenapa kita tidak mencoba mempraktekkannya. Tetapi memang usaha ini bukan perkara mudah, karena bukan saja terkait dengan kebiasaan yang sudah mengakar masyarakat, tetapi juga harus berhadapan dengan produsen susu formula yang melakukan praktek gelap di rumah sakit,” katanya.

Beberapa rumah sakit memberikan susu formula pada bayi yang baru lahir sebelum ibunya mampu memproduksi ASI. Hal itu menyebabkan bayi tidak terbiasa menghisap ASI dari puting susu ibunya, dan akhirnya tidak mau lagi mengonsumsi ASI atau sering disebut dengan “bingung puting”.

“Menghisap susu dari botol itu lain dengan menghisap puting susu ibu. Bayi harus belajar sejak awal dan ibu juga harus belajar menyusui, karena ketrampilan itu memang harus dipelajari oleh keduanya,” ujar dr Utami Roesli.

Sejak lahir, seorang bayi harus diajari menyusu dengan cara memasukkan seluruh areola payudara (daerah berwarna cokelat di payudara ibu) ke dalam mulut bayi. Jika bayi hanya mengisap puting susu saja, ASI yang keluar hanya sedikit. “Gudang ASI terletak di bawah daerah cokelat itu. Jika yang diisap hanya putingnya saja, ASI yang keluar hanya sedikit. Sedangkan, kalau dari daerah cokelat itu, ASI yang keluar akan banyak sekali,” jelas Utami.

Jika ASI di gudang itu habis, pabrik ASI (alveoli) akan segera memproduksi lagi. Alveoli berbentuk bulat dan bergerombol seperti buah anggur. Alveoli dikelilingi otot yang disebut myoepithel. Otot inilah yang memompa ASI keluar dari alveoli menuju gudang ASI.

Namun, kinerja myoepithel sangat tergantung pada hormon oksitosin yang dikirim otak. Jika oksitosin keluar, otot pun bekerja. Sedangkan, oksitosin bisa keluar jika ibu merasa tenang dan disayang oleh suami serta mendapat dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. “Makanya hormon ini disebut hormon kasih sayang. Dan di sinilah ayah memegang peranan penting,” tegas Utami.

Macetnya proses pemberian ASI ini disebabkan beberapa hal. Misalnya, bayi yang tidak bisa mengisap, posisi menyusui yang salah, ibu merasa tidak nyaman, atau suami dan lingkungan tidak mendukung. “Tidak ada cerita seorang ibu tidak bisa menyusui atau ASI yang tidak cukup.

Perhatikan saja seekor marmut yang kecil bisa menyusui 12 ekor anaknya. Bayi gajah yang besar juga bisa disusui dengan cukup oleh induknya. Mereka tidak memerlukan susu hewan lain untuk memenuhi kebutuhan susu. ASI diproduksi berdasarkan jumlah yang dikeluarkan,” ungkap Utami.

Dua Persen

Ia memperkirakan jumlah ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sampai berumur enam bulan saat ini masih rendah, yaitu kurang dari dua persen dari jumlah total ibu melahirkan. “Itu antara lain terjadi karena pengetahuan ibu tentang pentingnya ASI masih rendah, tatalaksana rumah sakit yang salah, dan banyaknya ibu yang mempunyai pekerjaan di luar rumah,” ucapnya.

ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. ASI eksklusif adalah makanan terbaik yang harus diberikan kepada bayi, karena di dalamnya terkandung hampir semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi.

“Tidak ada yang bisa menggantikan ASI karena ASI didesain khusus untuk bayi, sedangkan susu sapi komposisinya sangat berbeda sehingga tidak bisa saling menggantikan,” jelasnya.

Menurut dia, ada lebih dari 100 jenis zat gizi dalam ASI antara lain AA, DHA, Taurin dan Spingomyelin yang tidak terdapat dalam susu sapi. Beberapa produsen susu formula mencoba menambahkan zat gizi tersebut, tetapi hasilnya tetap tidak bisa menyamai kandungan gizi yang terdapat dalam ASI. “Lagi pula penambahan zat-zat gizi tersebut jika tidak dilakukan dalam jumlah dan komposisi yang seimbang maka akan menimbulkan terbentuknya zat yang berbahaya bagi bayi,” katanya.

Ditegaskan, ASI sangat diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan kecerdasan anak. “Menurut penelitian, anak-anak yang tidak diberi ASI mempunyai IQ (Intellectual Quotient) lebih rendah tujuh sampai delapan poin dibandingkan dengan anak-anak yang diberi ASI secara eksklusif. Karena itu, mengkonsumsi ASI bagi bayi merupakan hak anak yang hakiki,” ujarnya.

Anak-anak yang tidak diberi ASI secara eksklusif juga lebih cepat terjangkiti penyakit kronis seperti kanker, jantung, hipertensi dan diabetes setelah dewasa. Kemungkinan anak menderita kekurangan gizi dan mengalami obesitas (kegemukan) juga lebih besar.

Selain pada anak, pemberian ASI juga sangat bermanfaat bagi ibu. ASI, selain dapat diberikan dengan cara mudah dan murah juga dapat menurunkan resiko terjadinya pendarahan dan anemia pada ibu, serta menunda terjadinya kehamilan berikutnya.

Hal lain yang jauh lebih penting adalah timbulnya ikatan bathin (bonding) yang kuat antara ibu dan anak. “Ibu juga tidak perlu susah-susah melakukan diet untuk mengecilkan perut setelah melahirkan, karena hisapan anak pada puting susu ibu merangsang keluarnya hormon yang dapat mengencangkan dinding-dinding perut ibu kembali,” katanya. (T-1)

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: