Hati2 Buat Yang Suka Chatting

November 19, 2008 at 6:14 am | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Jangan terlalu percaya memberikan nomor2 id pribadi anda kepada orang yang baru dikenal agar tidak ada sheila-sheila lain yang mengalami hal di bawah ini……
Sheila sedang asyik bercengkerama dengan rekan-rekannya di salah satu chat room Yahoo Messenger ketika salah seorang chatter bertanya dimana lokasi tempat dia chat. Dengan santainya dia menjawab bahwa ia berada di sebuah internet caf? di satu daerah di Jakarta.
Tiba-tiba satu window private message menyapanya dan menebak dengan tepat lokasi tempatnya online. Sheila tidak mengindahkan dan dia tetap asyik melanjutkan gurauannya dengan rekan-rekannya yang lain di chatroom.

“BUZZ” !! Suara itu mengagetkannya dan memancing perhatiannya untuk beralih lagi ke window private message tadi. Orang di seberang sana mengatakan akan segera meluncur ke tempatnya, tapi “ahh…buat apa? Gue lagi nggak pengen ketemu siapa-siapa!” jawab Sheila cepat. Sheila tidak sadar bahwa dengan jawabannya itu dia sudah dengan secara tidak langsung membenarkan
perkiraan lokasi tempatnya biasa bermain internet. And then, “pokoknya tunggu yah, gue sebentar lagi sampai di sana!” kata si pengirim message dan ketika Sheila mengetikkan jawaban “Nggak ah!” si pengirim pesan sudah offline.

About a half an hour, someone came to her and “Sheila?” katanya. “Yes? Siapa ya?” jawab Sheila dengan lugu. “Gue yang tadi message loe. Nick gue surya” Dan Sheila hanya bisa terbengong sambil tertawa karena secepat itu orang yang baru saja bicara dengannya di online chat sudah berdiri di hadapannya.

Sheila memang orang yang cepat beradaptasi dan mudah bergaul. Dia disukai banyak teman-temannya karena sifatnya yang suka menolong dan murah hati. Dia juga selalu menjadi penyegar suasana ketika berkumpul dengan teman-temannya. Sangatlah mudah bagi Sheila untuk masuk ke dalam suatu percakapan akrab dengan orang yang baru saja dikenalnya. Sheila menganggap bahwa teman bisa didapatkan dimana saja, virtual maupun dalam kehidupan di sekitarnya. Dan
dengan teman barunya inipun Sheila cepat menjadi akrab hanya dalam hitungan menit.

“Ayo deh kita jalan, temenin gue makan” ajak Surya.
“Ah, gue dah makan, lagian kita mau jalan kemana sih?” Sheila menolak denganhalus.

“Yah, kemana aja, yang penting gue mau makan dan gue pengen ada temen buat cerita” kata Surya lagi.
Setelah berpikir beberapa saat, akhirnya Sheila setuju. Sheila bahkan sempat mengajak Surya untuk mengintip web camnya dan menunjukkan kepada salah seorang sahabatnya dengan siapa dia akan pergi.

Di perjalanan, melalui beberapa percakapan, Sheila mengetahui kalau Surya ternyata sudah menikah dan ia sedang bermasalah dengan istrinya. Sheila dengan manis mendengarkan keluh kesah Surya dan sesekali memberikan komentar atas ceritanya. Sheila berusaha menahan perasaannya walaupun dalam hatinya dia menyesal telah menyetujui pergi dengan seorang “suami” yang sedang bermasalah dengan istrinya. Sheila menjadi pendengar yang baik dan
memberikan sedikit masukan kepada Surya agar lebih bersabar menghadapi istrinya.
“Terus, kenapa thingy loe lagi berantem sama istri loe malah jalan sama gue?” Tanya Sheila.
“Gue lagi perlu temen buat cerita, gue tertekan setiap kali istri gue bicara kasar sama gue, dan memperlakukan gue tidak sebagai suaminya” kata Surya sedih.
“Yah, gue turut prihatin, tapi sebaiknya loe pulang dan berbaikan lagi karena mungkin dia hanya sedang emosi aja” bujuk Sheila.
Surya kelihatannya baik, kata Sheila dalam hati. Sheila benar-benar bisa melihat kegalauan perasaan Surya ketika bicara dengannya. Surya adalah laki-laki yang lembut di mata Sheila ketika itu. Dan ketika Surya mengeluarkan kartu namanya, secara spontan Sheila pun mengeluarkan kartu namanya tanpa prasangka buruk apapun. Baginya, teman adalah teman, dan teman
harus saling menolong di saat yang paling sulit sekalipun. Ah Sheila….betapa polosnya kamu.
Surya mengantar Sheila sampai di depan tempat kosnya. Sebuah pertemuan yang manis dan tidak ada suatu kejadian pun yang membuat Sheila berfikir buruk akan sesuatu yang akan terjadi di kemudian hari.

Keesokan harinya, seperti biasa Sheila sibuk dengan aktifitas kerjanya di kantor. Tiba-tiba handphone nya berdering dan dilihatnya nomor telephone Surya di layar handphonenya.
“Hallo…….” sapanya dengan manis.
Tapi sebuah jawaban yang sama sekali tidak diduganya seketika itu juga membuat Sheila kaget setengah mati.
“Siapa loe??? Kenapa nomor telephone loe ada di handphone suami gue??” bentak seorang wanita di seberang sana.
Sheila shock! Tapi dia dengan cepat bisa mengatasi suasana hatinya dan menjawab dengan santai “Lho, kenapa anda tidak bertanya pada suami anda? Dan kenapa tiba-tiba telep hone saya dengan marah-marah?”.
Wanita itu menjawab, “Ahh…loe pasti janjian sama suami gue ya??? Ngapain loe sama suami gue??” bentak wanita itu lagi.
Masih dengan perasaan kaget Sheila menjawab, “Sebaiknya anda tanyakan kepada suami anda kenapa nomor telephone saya bisa ada di situ, dan maaf saya sedang bekerja, telinga saya sakit mendengar anda teriak-teriak di telephone, maaf sekali lagi, saya matikan ya?”
Dan klik, Sheila memutuskan pembicaraan telephone tadi masih dengan terheran-heran. What the the devils playground is going on?, katanya dalam hati.

Handphonenya berdering lagi. Nomor telephone Surya kembali muncul di layar handphone nya. Sheila memasukkan handphonenya ke laci meja kerjanya. Tapi handphone nya tidak berhenti berdering. Akhirnya dengan perasaan berat dia menjawab telephone itu. Dan caci maki kembali terdengar di seberang sana. Sheila mematikan handphonenya dan mendiamkannya selama beberapa menit. Dihelanya nafas panjang. “Salah makan apa ya orang itu sampai begitu?”
pikirnya dengan santai.

Setelah setengah jam, dinyalakannya kembali handphone nya. Dan kembali handphonenya berdering. Nomor telephone Surya kembali muncul. Tapi kali ini Sheila tidak sabar lagi. Dia tidak mau orang memaki-maki dia tanpa kesalahan yang dia buat. Sheila bersiap-siap membalas apabila yang didengarnya hanya caci maki lagi. But then yang didengarnya…
“Sheila, maaf ya tadi kalau istri gue bicara kasar sama loe, gue jadi nggak enak, tolong dimaafin ya” suara Surya terdengar lemah di seberang sana. Sheila yang sudah bersiap-siap marah menjadi iba. Dan dijawabnya dengan lembut “It’s ok Sur, mungkin dia mood nya sedang jelek sekali, ya udah nggak apa-apa”
“Thanks ya Sheil, sekali lagi maaf” kata Surya makinlemah.
“OK Sur, no problem. But are you ok?” Sheila hanya memastikan sesuatu tidak terjadi di sana. And the word “are you ok” did not mean anything but her concern as a friend.

Tapi tiba-tiba di seberang sana seseorang kembali berteriak. “Mau ngapain loe nanya-nanya suami gue OK apa nggak hah?? Dasar gatel loe!!”
Sheila kembali kaget. poopie! It was a conference call! darn! What the the devils playground is going on with these people? Pikirnya dalam hati. Tapi yang keluar dari mulutnya saat itu adalah, “Oh maaf saya tidak ada maksud apa-apa, saya tutup ya telephone nya? Saya harus kerja lagi. Bye..”
Kali ini Sheila benar-benar tidak habis pikir. Disenderkannya punggungnya ke kursi kerjanya dan Sheila terdiam beberapa saat. Sheila hanya bisa tersenyum kecut mendapatkan sumpah serapah yang baru saja didengarnya. Tapi Sheila tetap bersikap tenang karena dia tidak merasa melakukan kesalahan apapun. I didn’t do anything wrong! Katanya berkali-kali dalam hati.

Sejak itu, masa-masa tenangnya terganggu. Seringkali di saat weekend time yang dilaluinya bersama keluarga, dia mendapatkan sms-sms kasar yang isinya mencaci maki dan mengancamnya. Padahal dia sudah sangat ingin melupakan bahwa dia pernah berkenalan dengan seorang bernama Surya. Dia tidak pernah menanggapi ataupun membalas sms-sms tersebut. Sampai suatu ketika datang sms yang benar-benar memancing emosinya.
“Awas ya kalo loe masih ganggu suami gue, gue siram muka loe pake air keras! Gue udah tau loe kerja dimana dan gue akan bikin heboh di kantor loe karena loe gangguin suami orang! Dasar perek!”
Dan Sheila akhirnya membalas sms tersebut. Pertahanannya untuk tidak menanggapi sms-sms kasar apapun yang didapatnya akhirnya runtuh.
“Saya tidak pernah mengganggu suami anda. Sebaiknya anda selesaikan masalah anda berdua tidak melibatkan saya. Dan kalau sampai terjadi sesuatu dengan saya, sms anda ini akan saya jadikan bukti bahwa anda pernah mengancam saya.” Klik! Sending….
Dan balasannya? “Ahhh dasar perempuan murahan! Cari duit yang halal thingy! Jangan morotin suami orang ! Gue gak takut! Gue udah pernah dipenjara 3 kali dengan kasus terhormat!”
Hm….kasus terhormat? Dan Sheila membalas lagi, “Yah…mungkin ini nanti akan menjadi kasus pertama anda masuk penjara dengan tidak terhormat”
Dan di seberang sana semakin panas mendapat jawaban Sheila. Makin banyak kata-kata kasar dan sumpah serapah yang “melibatkan” anggota tubuh paling vital dari seorang wanita ataupun pria. Sheila menahan emosinya sambil berkaca-kaca. I didn’t do anything! Why is this woman keep abusing me with these? desahnya dalam hati.

Ketika Sheila tak dapat menahan emosinya, dikirimnya sms “Kita selesaikan masalah ini, saya capek ngetik sms, silakan angkat telephone saya, dan kita bicara”
Sheila menghubungi nomor handphone Surya. Ringing. No answer. It was connected but no one answered the phone. She tried again. Still no answer. Sheila berfikir mungkin orang ini sedang tidak ada di dekat handphonenya. Tetapi beberapa detik kemudian, masuk lagi sms yang isinya sama kasarnya dengan sebelumnya. Dicobanya lagi menghubungi nomor tersebut. Still no
answer. Beberapa saat kemudian masuk lagi sms. Dia coba telephone lagi. Tetap tidak dijawab! darn! What does she want? Tidak mau bicara di telephone? Kalau memang penasaran dengan saya kenapa telephone saya tidak dijawab? It’s weird! Aneh! pikir Sheila.
And a thought across her mind. Jangan-jangan…hm… apakah ini permainan Surya sendiri? Seorang wanita yang bisa menghubungi dia hanya untuk memaki-maki, tidak mau menjawab telephone? Impossible! Then maybe it’s Surya himself who sent me those sms? Ahh… Sheila jadi pusing. Dimatikannya handphonenya dan kembali berkonsentrasi kepada pekerjaannya.

Dan semuanya tidak berhenti sampai di situ. Sheila mendapat terror telephone dari nomor Surya yang ketika diangkatnya selalu mati. Dan ketika diangkat Surya selalu mengulang bicara kalimat yang sama “Sheila, jangan pernah telephone-telephone saya lagi ya, saya nggak bisa berhubungan dengan kamu lagi” What the… ??? Emosi Sheila tak terbendung lagi. Siapa juga yang selalu menghubungi. Sheila never called Surya! Surya was the one who tried to call her so many times! Sheila tak mau peduli lagi. Sheila tak pernah mau menjawab telephone Surya.
Sampai suatu ketika, telephone di ruang kerjanya berdering dan seperti biasa Sheila menjawab semua telephone dengan ramah. Surya ternyata si penelepon itu. Dan katanya “Sheila, gue cuma mau menegaskan bahwa sebelumnya kita tidak pernah saling mengenal, dan sekarang anggap saja kita tidak saling kenal satu sama lain. Loe nggak perlu ganti nomor handphone dan
menghindari telephone gue. Cuma kalau nanti terjadi sesuatu di belakang hari, gak ada
hubungannya dengan gue ya!”

Arghhh….Sheila sudah lelah dengan semua itu. Dia malas bicara dengan orang gila ini. Sheila tidak pernah menelephone Surya dan setiap kali, Surya entah apa yang ada di seki tarnya, selalu memutarbalikkan seolah-olah Sheila adalah wanita yang selalu mengejar-ngejar Surya. Come on Surya, get real man! You’re not even my type! ejek Sheila dalam hati.

1 minggu berlalu. Keadaan tenang tanpa sms caci maki ataupun telephone-telephone dari nomor yang sengaja di “hidden”. Sampai suatu pagi, Sheila kaget melihat begitu banyak sms di inbox nya. Full! Ketika dibuka, Sheila got no idea what the people said in their sms. Mostly mereka bertanya
dengan sopan. Ada juga yang secara vulgar menanyakan bagaimana bisa memuaskan nafsu Sheila. Sheila terbengong-bengong membaca sms-sms yang masuk. Dan ketika ada sms yang kelihatannya ramah, dia membalas bahwa dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh orang-orang yang mengirim sms kepadanya. Telephone masuk dari nomor-nomor yang tidak dikenalnya juga membuat handphonenya tidak berhenti berdering. Dan ternyata….

Dari salah seorang penelepon yang ramah dan sopan, Sheila mengetahui bahwa identitas nya telah dimasukkan oleh seseorang yang tidak dikenal ke dalam mailing list esek-esek. Lengkap dengan cerita palsu tentang petualangan seks dan nomor telephone Sheila. Parahnya lagi, orang ini memasukkan nomor telephone kantor Sheila! Sheila hanya bisa menghela nafas. Sama sekali tidak pernah terfikir olehnya bahwa kejadiannya akan demikian complicated. Hanya satu yang ada di fikirannya, “kenapa orang ini begitu niat menghancurkan saya?” pikirnya sedih.

Sejak itu, Sheila tidak pernah lagi menjawab telephone-telephone dari nomor yang tidak dikenalnya. Juga tidak membalas sms-sms yang masuk. Inboxnya full dengan pesan-pesan dari orang-orang yang ingin mengajaknya kencan. Tetapi banyak juga yang baik dan sopan menanyakan kebenaran dari semua itu. Tapi Sheila tak ada keinginan untuk membalas pesan mereka. Sampai Sheila akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan mailing list tersebut dan
mengklarifikasi semuanya.

Sheila menulis dengan rendah hati dan tidak emosi dan meminta maaf kepada para pengirim sms ataupun penelephone karena dia tidak akan menjawab satupun sms atau telephone dari mereka. Sejak itu, ajakan-ajakan ataupun sms agak berkurang. Sampai suatu saat telephone di kantornya berdering. Seseorang me-reconfirm appointmentnya dengan Sheila di kantornya. Sheila kaget. Menurut orang ini, Sheila dan dia bicara agak lama di telephone dan mereka janjian untuk kencan. darn!!!

Sheila hanya menjelaskan kepada orang ini bahwa seseorang telah berpura-pura menjadi dirinya dan berniat merusak nama baiknya. Si penelepon mengerti dan meminta maaf. Dia bahkan ikut prihatin dengan kejadian yang dialami Sheila.

Jam dua, sesaat setelah makan siang, 2 orang tamu mencari Sheila di kantor. Kedua orang ini juga katanya ada janji dengan Sheila. Astagfirullah…. Niat banget sih nih orang ngerjain sampai kaya gini? Teriak Sheila dalam hati. Sheila tidak menemui mereka karena Sheila merasa tidak punya janji dengan mereka. Seorang tamunya memaksa bicara dengan Sheila di telephone yang ada di meja satpam dan yakin bahwa dia ada janji dengan Sheila. Tapi Sheila menolak. Sheila tidak pernah membuat janji dengan siapapun pada jam kerja untuk urusan diluar urusan pekerjaan! Dan malamnya, orang inipun memaki-maki Sheila di sms dengan tuduhan bahwa
Sheila telah mengingkari janji. Sheila tidak membalas. Semua sms seperti itu langsung dihapusnya.

Minggu berikutnya, pagi ini Sheila merasa badannya tidak fit. Temperaturnya tinggi sekali. Dia memutuskan untuk tidak masuk kerja. Sheila juga stress dengan telephone-telephone dari pria-pria iseng dari mailing list itu yang merasa tidak berhasil menghubungi lewat handphone dan mencoba menghubunginya di kantor.

Sheila jatuh sakit. Sahabatnya yang dokter segera datang menengoknya dan memeriksa. Aning teman yang baik. Dia selalu ada kapanpun Sheila membutuhkannya. Aning i s always reliable. Hanya kepada Aning Sheila bisa menceritakan semua kejadian awal dari terror-teror yang diterimanya selama ini.

Ketika keesokan harinya Sheila merasa agak baikan, dia memutuskan untuk masuk kerja. Dilangkahkannya kakinya ke kantor tanpa firasat buruk apapun. Disapanya teman-teman sekantor dengan senyum manisnya. Sheila disenangi teman-temannya dan dia sangat menyukai lingkungan kerjanya yang sekarang. Tiba-tiba, “Sheila, can we talk?” bossnya memanggil. Wajah bossnya terlihat tidak menyenangkan pagi ini. Sheila berfikir mungkin karena dia tidak masuk kemarin dan banyak pekerjaan yang terpending.
But then…
“Sheila, I want you to read this fax. I didn’t understand what’s in there because it’s in Indonesian, then I asked Pak Bimo to translate it for me. And I got surprised about it. I don’t think it’s appropriate for this company. You are one of the important member of the team in our big projects. And your name is always attached to mine. This kind of stuff can destroy company image and myself. And that person has used company’s property to send you a fax like that. I don’t think you can work in this
office anymore. So what do you say if you resign and we will give you couple months of severance payment?”
What a horrible morning!!! Sheila kaget setengah mati. Tangannya gemetar memegang fax yang isinya sangat tidak pantas dibaca oleh siapapun di perusahaan tempatnya bekerja. Sheila berusaha menjelaskan bahwa semua itu tidak benar dan ada seseorang yang berusaha menghancurkan nama baiknya. Orang gila ini telah benar-benar menghancurkan karir dan nama baiknya di kantor!!! Tega sekali!!!
But then again…
“I don’t wanna know your personal problem, but this isn’t acceptable in this company. So what do you say? You can take my offer?” bossnya menjawab.
Well, Sheila bukan seseorang yang senang mengemis. Dengan tegar dijawabnya,
‘Well, if that what I have to take, I’ll resign. I’m sorry for the trouble. When do you want me to leave?” tanyanya lagi.
And her boss said, “Now, today”
Gosh! Sheila hanya bisa tersenyum sedih. Dan dia menjawab “OK, I’ll get my things and leave this company as soon as possible this morning. Thanks for the opportunity working with you.”
Dan dia pun menyalami bossnya. Sedih. Sakit. Tapi Sheila tak mampu menangis di hadapan orang yang tidak dekat dengannya. Sheila berusaha tersenyum.

Dia masuk ke ruang kerjanya dan segera membereskan barang-barangnya. Didatanginya bagian personalia dan ditulisnya surat pengunduran dirinya. Diserahkannya kembali ID Card dan segala property milik perusahaan yang ada padanya. Sheila berusaha tersenyum ketika rekan-rekan kerjanya menyapa dirinya seperti biasa walaupun hatinya sangat hancur. Sheila tak sempat
berpamitan dengan rekan-rekan yang dicintainya di perusahaan tempatnya bekerja.

Pagi itu juga Sheila bukan lagi karyawan di perusahaan itu. Dia harus melupakan impiannya untuk meraih karir di situ. Tak ada lagi yang harus dipertahankan di situ. Dia sangat mengerti bahwa posisinya adalah posisi kritikal yang sangat menentukan image seorang Pimpinan Perusahaan.
Dilangkahkannya kaki meninggalkan tempat yang selama 9 bulan ini menjadi tempat kerja barunya. Sheila hanya bisa menangis dalam hati. Tanpa pernah bisa berbuat sesuatu
untuk membalas apapun. Sheila tidak menyangka bahwa chat bisa begitu berbahaya bagi karir dan hidupnya ketika dia bertemu dengan seorang psikopat. Dan Sheila tidak ingin membalas dendam. Masih banyak yang harus dibenahi di depan sana. Sheila tetap yakin bahwa
dunia tidak akan runtuh baginya hanya dengan kejadian seperti ini. Sheila tetap yakin bahwa dia akan bisa meraih masa depan yang lebih baik di depan sana. Seperti Aning bilang, “Berlian walaupun jatuh ke dalam lumpur dia akan tetap menjadi Berlian” dan Sheila selalu tersenyum tiap kali mengingat kalimat itu.

Sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi Sheila untuk lebih berhati-hati menjalani kehidupannya. Kejadian pahit selalu membuat seseorang lebih dewasa, dan Sheila yakin itu. Tuhan tidak akan memberikan cobaan kepada orang yang dianggap tidak kuat. Mungkin Sheila masih akan dicoba lagi sampai suatu saat dia sudah tidak kuat lagi. Dan Sheila yakin, hanya dengan ijinNya semua bisa terjadi. Mungkin ini adalah jalan terbaik dariNya bagi Sheila
untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Amien….

Leave a Comment »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: