Cinta tanpa Syarat

June 26, 2009 at 12:47 pm | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Malam tahun baru 1999 adalah awal malapetaka bagi saya. Saya mengalami kecelakaan hebat setelah motor yang saya kendarai bertabrakan dengan sebuah mobil taft. Sempat sadar setelah terjatuh, saya melihat darah berceceran di sekitar lokasi. Gagal mencoba berdiri, saya baru menyadari bahwa kaki kanan saya terluka cukup parah. Urat besar di bawah lutut saya putus.

Setelah dioperasi di Rumah Sakit Mekar Sari, Bekasi Timur, saya diharuskan istirahat total. Sejak saat itu saya harus menghadapi kenyataan pahit, kaki kanan saya pincang. Ya, saya cacat.

Hari-hari pada proses pemulihan kondisi terasa amat berat. Betapa tersiksanya ketika saya harus merangkak menuju kamar mandi untuk sekadar buang hajat. Dan sejak saat itu saya sadar bahwa karunia Allah atas kesehatan dan kesempurnaan pada tubuh kita begitu besar.

Dan orang yang rela menemani hari-hari berat itu dan merawat saya adalah ibu. Beliau membasuh darah yang kadang masih keluar dari kaki saya dan membasuh seluruh tubuh saya sebagai ganti mandi. Berbulan-bulan sakit itu hingga saya diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya. Kasih sayang beliau tak berkurang sedikit pun meski saya cacat.
***

Alkisah, ada seorang pemuda yang dikirim ke medan perang. Dia prajurit muda. Setelah sekian lama bertempur, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, pemuda itu menelepon kedua orang tuanya terlebih dahulu.

”Ibu, Ayah, aku sedang menuju pulang. Tapi, sebelum sampai, aku ingin menanyakan satu hal. Aku punya seorang teman yang ingin kubawa pulang bersamaku. Bolehkah?”

”Tentu. Kami sangat senang bertemu dengan temanmu itu,” jawab kedua orang tuanya.

“Tapi, ada satu hal yang harus Ibu dan Ayah ketahui. Temanku ini sedang terluka akibat perang. Dia kehilangan satu kaki dan satu tangannya. Dia tak tahu ke mana harus pulang. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” ujar sang pemuda.

“Kasihan sekali. Mungkin kita bisa mencarikan tempat untuk temanmu tersebut,” tutur kedua orang tua pemuda itu.

“Tidak. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” tegas si pemuda.

“Anakku, kamu tak tahu apa yang sedang kamu minta. Seorang yang cacat akan menjadi beban bagi kita. Kita punya kehidupan sendiri. Dan sesuatu seperti ini tidak bisa mencampuri kehidupan kita,” jawab ayah pemuda itu.

“Menurut Ayah, sebaiknya kamu pulang dan lupakan saja temanmu itu. Dia pasti menemukan cara sendiri untuk hidup,” lanjut sang ayah.

Prajurit muda itu terdiam sejenak. Lalu, dia menutup telepon.

Beberapa hari kemudian, ayah dan ibu prajurit muda tersebut mendapatkan kabar dari polisi bahwa ada seorang pemuda yang bunuh diri dengan cara melompat dari puncak gedung. Berdasar identitasnya, diketahui bahwa pemuda itu adalah anak lelaki mereka.

Dengan perasaan duka dan sedih, kedua orang tua itu datang ke tempat kejadian perkara untuk memastikan kabar itu. Ketika berada di dekat jenazah, kedua orang tua tersebut yakin bahwa jasad lelaki itu adalah putra mereka.

Namun, yang membuat mereka sangat terkejut adalah jenazah itu hanya memiliki satu tangan dan satu kaki.

***

Sering kali, tanpa kita sadari, kita kerap terpesona oleh penampilan luar seseorang. Ada seorang guru yang hanya suka terhadap murid yang pintar. Bahkan, ada seseorang yang hanya menghormati orang yang cantik, tampan, kaya, dan segala sesuatu yang bagus-bagus saja.

Berapa banyak kata cinta yang terlontar dan kita dengar dalam sehari? Kata cinta dapat dengan mudah kita jumpai di majalah, surat kabar, televisi, radio, atau ponsel. Kata cinta juga gampang dijumpai di rumah, tempat umum, rumah sakit, atau diari sekalipun.

Mudah saja seorang pria mengucapkan kata cinta kepada gadis yang cantik rupawan. Mudah saja seorang ibu mengucapkan cinta kepada anak yang lucu menggemaskan. Mudah saja seorang guru bilang cinta kepada murid yang rajin dan pintar.
Mudah saja seorang bos menuturkan cinta kepada anak buah yang produktif dan kinerjanya baik.

Namun, mudahkah kita mengucapkan cinta kepada seseorang yang tak secantik, serupawan, selucu, sepintar, dan serajin yang kita bayangkan? Apakah seorang pria akan tetap mengutarakan cinta apabila si gadis tak lagi cantik dan memesona? Apakah seorang guru tetap mengasihi jika muridnya malas dan membangkang?

Tanpa disadari, kita acapkali hanya mau mencintai dan hidup bersama orang yang sempurna di mata kita. Namun, kita tak senang hidup dengan orang yang membuat kita tidak nyaman.

Seperti kisah prajurit muda tadi, kedua orang tua itu mencintai dengan tidak tulus, harus dengan syarat. Mereka gagal dalam ujian keikhlasan.

Dan untuk seorang ibu yang rela merawat dan membesarkan hati saya ketika saya merasa down, hanyalah doa agar Allah senantiasa menjaga dan memudahkan segala urusannya ketika kami tidak lagi bersama saat ini.

sumber : http://www.samuderaislam.blogspot.com

Mengenalkan Allah pada Anak

June 26, 2009 at 12:16 pm | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, untuk mengawali bayi-bayi kita dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.” Kalimat suci inilah  yang kelak akan membekas pada otak dan hati mereka

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan –meskipun barangkali ada yang demikian—tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah dalam suasana menakutkan.

Mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya, sementara sifat jamaliyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang-orang tersayang.

Astaghfirullahal ‘adziim…

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat “keliru” –meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita—asma Allah terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, “Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”

Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, “E… nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba…? Muba…? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”

Setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara “mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”. Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka “menjauh” karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih-sayang Allah.

Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Kita ajari mereka menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Bercermin pada perintah Nabi saw. dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, “Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.”

Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi di saat-saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan. Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq

Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara.

Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?”

Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia.

Wallahu a’lam bishawab.

Penulis adalah penulis kolom rubrik parenting di Majalah Hidayatullah

Ketabahan Seorang Wanita

June 19, 2009 at 12:49 pm | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Mungkin sudah ditakdirkan bahwa sebagian besar wanita mempunyai resistensi yang tinggi terhadap penderitaan hidup. Seperti kisah nyata seorang wanita berikut ini, yang berusaha bertahan dan step by step memperbaiki dirinya untuk kembali ke jalan Allah agar mendapat keselamatan dunia akhirat.

Hidup sudah demikian berat bagi wanita ini. Di usia sembilan belas tahun dia terpaksa menikah dengan pacar SMA nya karena hubungan bebas mereka telah menyebabkan si wanita hamil di luar nikah. Pernikahan yang sudah salah dari mula itu akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak tersebut tumbuh tanpa mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibunya karena masing-masing sibuk dengan diri mereka sendiri. Entah karena si ayah masih senang dengan dunia gemerlap atau karena si ibu masih terlalu muda dan gamang menghadapi semua masalah rumah tangga sendiri tanpa ada yang membimbingnya.

Pernikahan yang yang rapuh itu semakin lama semakin jauh dari apa yang diharapkan si wanita. Apa yang diimpikannya semasa SMA untuk membina keluarga kecil dengan pacar yang dicintainya, pupus sudah. Sang suami semakin sering pulang larut malam. Si wanita memendam semua kekesalan dan kemarahan dalam hatinya hingga suatu saat dia mendapati perselingkuhan suaminya dengan wanita lain. Dia kecewa dan hancur serta merasa telah sampai pada suatu titik dimana dia tidak mampu lagi untuk hidup bersama suaminya, dia menggugat cerai.

Setelah proses perceraian yang rumit akhirnya dia hidup sendiri lagi sebagai janda muda dengan seorang anak laki-laki yang berumur 5 tahun. Dia bertekad melanjutkan pendidikannya yang terputus dan berusaha untuk mandiri agar tidak menjadi beban orang lain. Ternyata kesendiriannya itu tidak berlangsung lama. Seorang pria bujangan teman kuliahnya menunjukkan perhatian kepadanya. Awalnya si wanita ragu, tapi setelah pria itu berbicara serius untuk melamar si wanita dan menerimanya apa adanya, akhirnya dia luluh juga.

Masalah kembali muncul karena laki-laki itu berbeda keyakinan dan sang ayah sangat menentang rencana pernikahan mereka. Apalagi laki-laki itu masih berstatus mahasiswa dan belum bekerja. Tapi kemudian dia menunjukkan kesungguhannya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan seorang ustadz. Dengan hati yang berat akhirnya orangtua si wanita merestui juga pernikahan mereka untuk menghindari kemaksiatan.

Awal pernikahan mereka adalah masa-masa yang indah. Si wanita berusaha membantu suaminya sebagai seorang muallaf untuk belajar melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan hukum-hukum Islam. Dia memohon pada Allah Yang Maha Pemberi Ampun untuk mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalunya dan menerima taubatnya. Dia berikrar akan menjadikan rumah tangganya bersama suami barunya ini menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Dia mulai menata keluarga barunya dengan melandaskan semuanya pada syariat-syariat agama.

Sang suami ternyata adalah seorang yang perhatian dan penyayang, apalagi dia sangat sayang pada anak si wanita dari suami terdahulu. Pada tahun kedua perkawinan mereka dikarunia seorang anak perempuan yang cantik. Si wanita merasa hidupnya sudah nyaris sempurna dengan suami yang baik dan sepasang anak yang menyenangkan hati. Apalagi suaminya menunjukkan kesungguhan dalam mendalami agama. Dia serasa mendapatkan syurga dunia.

Namun kebahagiaan si wanita hanya berlangsung sesaat. Memasuki tahun ketiga perkawinan mereka, dia mendapati bahwa suaminya tidak kunjung berusaha untuk mencari nafkah. Beruntung orangtua si wanita adalah orang yang berada, sehingga rumah tangga mereka di support oleh orangtuanya. Semakin lama sang suami semakin tenggelam dalam dunia maya yang sangat digemarinya. Dia jarang keluar rumah dan menghabiskan hari-harinya di depan komputer.

Suatu hari si wanita terkejut dengan jawaban suaminya ketika dia mengemukakan kegusarannya mengenai sikap suaminya yang tidak mau berusaha mencari nafkah. “Orangtuamu kan kaya, lagian hartanya nggak akan habis untuk menghidupi kita berempat”, jawab sang suami. Masya Allah, bagaikan petir di siang bolong, dia tidak mempercayai apa yang di dengarnya. Dia menangis dan mengadu pada Allah agar suaminya dibukakan hatinya. Wanita itu takut benang rumah tangga yang sedang susah payah dirajutnya akan kembali putus di tengah jalan.

Rumah tangga nya mampu bertahan selama tujuh tahun. Tapi untuk mampu meraih tujuh tahun itu si wanita harus berjalan terseok-seok, menutupi sifat pemalas sang suami, mencari nafkah sendiri untuk biaya hidup mereka, karena dia malu terus-terusan di support orangtua. Puncak dari penderitaan wanita itu adalah ketika mereka bertengkar dan sang suami mengatakan hal yang sangat memilukan hatinya.

Sang suami berkata, “Saya kan sudah berkorban dengan mengawini janda dengan satu anak, jadi wajar dong kalau orangtua kamu membiayai hidup kita” jawab laki-laki itu dengan enteng. “Tapi dulu kan kamu yang meminta saya untuk menerima lamaran kamu, bukan saya yang memohon untuk dinikahi”, tangis wanita itu. Wanita itu tidak mengerti kemana perginya semua kasih sayang yang pernah ditunjukkan suaminya dan kemana menguapnya semua pelajaran agama yang mereka pelajari bersama-sama. Apakah selama ini dia menikahi seorang pemain sinetron yang sangat pandai berakting?

Setelah sholat istikharah dan berdoa memohon petunjuk dari Sang Khalik, akhirnya wanita itu meminta cerai dari suaminya. Hal yang tak terduga, sang suami dengan enteng mengabulkan permintaannya. Dengan rasa malu si wanita kembali ke pangkuan orangtuanya, membawa dua orang anak yang masih membutuhkan perhatian seorang ayah. Alhamdulillah orangtua si wanita menerima mereka dengan ikhlas.

Perceraian kedua ini membawa si wanita semakin taat menjalankan ibadah dan selalu mengikuti majelis-majelis keagamaan. Dengan mendekatkan diri pada Allah SWT dia merasakan ketenangan jiwa dan lebih ikhlas dalam menerima cobaan hidup. Dia yakin bahwa Allah pasti akan memberi imbalan bagi orang yang sabar.

Ternyata Allah SWT tidak membiarkan wanita itu berlama-lama hidup sendiri. Pada salah satu majelis keagamaan, seorang teman memperkenalkannya pada seorang pria yang berprofesi sebagai Motivation Trainer. Ternyata temannya itu menceritakan nasib si wanita kepada laki-laki tersebut sambil meminta agar laki-laki itu mau memberi nasehat serta motivasi pada si wanita. Akhirnya Allah menentukan lain, sang pria meminta secara resmi agar si wanita mau menjadi isterinya. Walaupun sudah melalui bermacam-macam cobaan hidup, tapi permintaan laki-laki itu adalah hal sangat berat untuk dijawab.

Lama dia memohon petunjuk pada Allah SWT dan meminta nasehat pada kedua orangtuanya, agar jawabannya kali ini benar-benar jawaban yang tepat serta diridhoi oleh Allah dan juga kedua orangtuanya. Ayahnya berkata, “Nak, apa yang sudah engkau lalui adalah pelajaran hidup yang tidak akan kau dapatkan di sekolah manapun juga. Ayah bersyukur pada Allah bahwa penderitaan yang kau lalui membawamu kembali ke Allah.

Berdoalah padaNya untuk mohon petunjuk jalan apa yang harus kau ambil, kami akan mendukungmu apa pun keputusan yang kau ambil”. Itulah pertama kali dalam hidupnya kedua orangtuanya meridhoi langkah apa yang akan diambilnya dalam menentukan pilihan hidup. Ridho orangtua adalah ridho Allah, kini dia sangat percaya akan kata-kata tersebut.

Dengan hati yang plong akhirnya dia menerima lamaran laki-laki itu. Mereka menikah secara siri, walaupun isteri pertama laki-laki itu sudah memberi restunya. Menurut suaminya ada hal-hal yang belum memungkin bagi mereka untuk mengumumkan pernikahan itu. Pada awalnya si wanita agak terkejut dengan kehidupan rumah tangga barunya itu. Dia belum terbiasa dengan kunjungan sang suami yang hanya sekali seminggu dan itupun hanya untuk beberapa jam saja, selebihnya hubungan mereka lebih banyak melalui telefon.

Suami barunya ini adalah seoang yang taat beragama dan benar-benar pemimpin yang bertanggung jawab terhadap rumah tangga mereka. Setiap ada masalah dia selalu memberikan pertimbangan yang bijaksana dan berpikir positif sehingga semuanya bisa diselesaikan dengan baik.

Nobody’s perfect, kesempurnaan hanya milik Allah, walaupun suaminya sudah memenuhi kriteria suami idaman, tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati. Dia tidak mengerti mengapa suaminya masih belum mau mengakui pernikahan mereka dan mengapa sang suami mengunjunginya hanya beberapa jam dalam seminggu, walaupun isteri pertama sudah merestui. Si wanita tidak berani bertanya kepada suaminya karena dia pikir suaminya itu sudah begitu baik padanya dan sangat tidak pantas kalau dia terlalu banyak menuntut.

Tapi setelah lima tahun menjalani pernikahan siri dia memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya mengenai hal tersebut. Pertanyaan tersebut membuat suaminya terdiam dan terlihat sangat sedih. Akhirnya dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mempermasalahkannya. Terkadang ada rasa sedih merayapi hatinya karena dia merasa menjadi isteri simpanan yang tidak diakui, walaupun mereka menikah sah secara agama. Suaminya tidak pernah membawanya bepergian layaknya suami isteri. Hari-harinya dilalui dalam kesendirian, mengurus anak-anak.

Si wanita akhirnya mengembalikan semuanya pada Allah agar suatu hari nanti memberinya kesempatan untuk menjalani kehidupan layaknya sebuah keluarga yang normal. Setelah dua pernikahannya terdahulu, dia tidak ingin gagal untuk kali ini karena dia yakin pernikahannya kali ini didasarkan atas cinta pada Allah dan restu dari kedua orangtuanya. Dia yakin apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada dirinya adalah atas izin Allah oleh karena itu akan dijalaninya dengan ikhlas dan lapang dada.

Semoga kisah ini bisa memberi semangat dan motivasi bagi wanita-wanita yang sedang menghadapi masalah. Jangan berputus asa karena Allah SWT telah berjanji bahwa dibalik kesulitan akan selalu ada kemudahan.

Sumber : eramuslim.com

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.