Agar Suami Selalu Cinta

July 3, 2009 at 5:15 pm | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Oleh : Yesi Elsandra

Baitijannati. “Sayang, I love you!” Hari ini entah sudah untuk yang keberapa kalinya suamiku membisikan kata itu dengan lembut tidak saja langsung bibirnya menempel di telingaku, tetapi juga melalui SMS ketika dia sudah di kantor. Biasanya akupun langsung membalasnya, I love you too, mas. Terima kasih telah menjadi suamiku.”

Aku menyadari, aku memiliki bebrapa kelebihan, tetapi sesungguhnya kekuranganku jauh melebih kelebihan yang aku punya. Aku bukan perempuan yang cantik jelita seperti ratu balqis, bukan pula wanita kaya raya seperti ummahatul mu’minin Khadijah. Walaupun tidak buta, tetapi pemahamanku terhadap Islampun masih perlu perbaikan.Tak banyak yang istimewa yang aku punya, makanya aku sangat bersyukur sekali Allah menghadirkan seseorang yang Allah halalkan tidak saja hatinya tetapi juga fisiknya padaku. Walaupun aku hanyalah perempuan biasa, Allah memberiku seorang laki-laki yang sholeh, baik, rendah hati dan amat sangat sayang padaku.

Ibuku pernah berpesan, ada empat perkara yang harus kita perhatikan agar tercipta syurga dunia dalam rumah tangga. Sebagai seorang istri kita memang dituntut untuk memaksimalkan kemamapuan agar indah dipandang mata, sejuk dilihat, tenang ditinggal, membangkitkan gairah, dan menumbuhkan ketaatan suami kepada Allah. Disamping menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak kita.

Pertama, mampu memberikan kepuasan di tempat tidur. Tempat tidur adalah ruang yang paling privacy antara kita dan suami. Disanalah biasanya suami mengurai keletihan setelah bekerja seharian. Tempat tidur juga merupakan tempat dimana biasanya suami istri menunaikan hajat seksualnya. Untuk itu istri di tuntut untuk menata tempat tidur dengan baik, bersih dan harum. Istri perlu memahami kebutuhan seksual suami, memenuhi ajakan bersetubuh dengan segera, memberikan kepuasan maksimal dalam bersetubuh, jika perlu tidak ada salahnya istri menawarkan diri.

Kedua, menciptakan keindahan di dalam rumah, menatanya dengan penuh artistik, serta menjaga harta yang ada di dalamnya. Rumah yang besar belum tentu menciptakan ketenangan dan kedamaian. Perabotan yang banyak lagi mahal tidak juga bisa membuktikan penghuninya adalah pasangan yang berbahagia. Keindahan di sini adalah keindahan yang terpancar dari tangan lembut dan keikhlasan penatanya, yaitu istri yang sholehah, qonaah, tawadhu, dan rendah hati.

Ketiga, mendidik dan menjaga anak-anak. Anak-anak adalah amanah, anak-anak adalah investasi, anak-anak merupakan hiburan bagi kita. Anak-anak yang bersih, sehat, cerdas adalah dambaan orang tuanya. Menjadikan anak-anak kita sholeh, cerdas, sehat dan bersih membuktikan keberhasilan kita mendidik mereka. Suami akan bekerja lebih giat untuk mencari nafkah jika melihat anak-anak dalam kondisi seperti ini.

Keempat, saling memaafkan. Suami istri berasal dari dua keluarga yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, adat-istiadat yang berbeda, sifat yang berbeda. Keduanya bukanlah makhluk yang sempurna yang tak pernah salah. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan. Meminta maaf terlebih dahulu jika memiliki salah dan segera memaafkan suami serta tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang pernah ada akan menautkan lagi kemesraan kita berdua.

Seorang suami tidak akan memikirkan perempuan lain jika istri mampu menampilkan semua ini dihadapanya. Memberikan kebahagiaan lahir batin, menciptakan suasana segar, serta istri yang menentramkan jiwa. Tak akan pula ada percekcokan, sakit hati atau penyesalan telah mengikat janji berdua dihadapan Allah aza wajalla. Yang ada adalah ungapan sayang, kata-kata mesra, cinta yang selalu berbunga, mudah-mudahan berkah Allah selalu melingkupinya.

Advertisements

The Power Of Positif Thinking (Husnuzhon)

July 3, 2009 at 12:17 pm | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Assalamualaikum wr.wb…
saya mau coba Shering dengan anda lewat tulisan ini, sy sadar tulisan ini masih jauh dr sempurna, kalau ada temen2 di WH yg lebih mengetahui ILMU nya silahkan diberi masukan & kritikan, tks. selamat membaca.

Dari berbagai sumber buku yang saya baca tentang “Postif Thinking”
saya coba beri kesimpulan tentang Positif Tinking.

Sesungguhnya semua mahluk, yg ada dimuka bumi tunduk pada Allah….
Tahukah anda? bahwa bentuk otak manusia, menyerupai Orang yg sedang bersujud? Artinya, otak kita saja senantiasa bersujud pada Allah? kenapa kita tidak?

THINKING (FIKIRAN)

* 2 juta informasi masuk ke otak kita perdetiknya
* akal kita mampu berfikir 60.000 fikiran setiap harinya, baik yg positif maupun negatif
* Setiap doa yg kita ucapkan bersumber dari fikiran, berarti setiap fikiran merupakan DOA
* setiap DOA pasti dikabulkan oleh Allah, baik yang positif maupun yang negatif (Ud’uni astajib lakum)
* Hidup kita yang sekarang kita jalani, ternyata hasil proyeksi dari akal fikran kita sendiri

Jadi berhati2lah mengolah fikiran kita, hiasilah selalu fikiran kita dgn positif thinking, karena setiap fikiran kita merupakan DOA, yg pasti akan dikabulkan oleh Allah, maka senantiasalah berfikir positif agar POSITIVE hidup kita, yg merupakan hasil proyeksi dari akal kita.

JAUHKAN SU’UDZON (BURUK SANGKA)
Baik pada orang lain, pada diri sendiri, maupun pada Allah, sehingga kehidupan nyata kitapun jauh dari KEBURUKAN.

CARA MENGHILANGKAN SU’UDZON :
* Paksakan diri untuk berhusnudzon (berbaik sangka) sampai 72x
jadi misalnya : saat kita mengundang orang lain disuatu pesta & org tsb tidak datang, paksakan diri kita untuk mencari kesimpulan brupa kata “MUNGKIN” dgn baik, misalnya : mungkin dia ada halangan, mungkin dia ada acara lain, mungkin dia lupa & mungkin2 lainnya sampai 72 x, baru ke 73X nya kita boleh berfikir negatif…. kenapa? karena saat kita mencari kata “MUNGKIN” ke lebih 30x otak kita sudah terlanjur lelah sehingga tdk ada kesempatan utk berfikir negatif lagi.

*Sebisa mungkin kurangi asupan persepsi negatif (baik yg bersumber dari TV, majalah, radio, apalagi yg mengandung gosip, gibah & lainnya)
karena dgn semakin dikit info buruk yg masuk ke otak kita, makin sedikit kita berfikir negatif

*Hiasi fikiran kita dengan Nama2 baik Allah/Asmaul husnah, sehingga hasil proyeksi hidup kitapun InsyaAllah menjadi baik.

*Nikmati sholatmu & Dzikirmu, ajaklah hati, jiwa & fikiranmu saat melakukan sholat & zikir, karena doa kita yg berada dlm fikiran kitapun akan diaminkan para malaikat.

*Ubah cara bertanya pada diri, jgn katakan Why (kenapa) tapi ubahlah menjadi How (bagaimana). karena kata2 Why, mengandung makna penyesalan, putus asa & cenderung menyalahkan orang lain. sedangkan kata How, mengandung pemikiran yg menantang, kreatif (thinking out of the box) misalnya :

kita sering bertanya kenapa saya miskin? kenapa saya yg dikasih musibah ini? kenapa bukan saya yg berhasil?
tapi cobalah kita ubah pertanyaan tsb menjadi…. Bagaimana caranya supaya saya tdk miskin? bagaimana agar saya tdk dikasih cobaaan berat ini? bagaimana saya bisa berhasil? apa yg harus saya lakukan?

Jadi ubahlah cara bertanya pada diri kita sendiri.

*Melatih Kata- Kata.
sering kali otak kita, salah menerjemahkan kata2 kita, sering kali otak men “delet” sebagian kata2 yg kita ucapkan.
misalnya : kita disuruh “Jangan tengok kebelakang” apa yg ada dipikiran kita? memang kita tdk nengok kebelakang, namun tak dipungkiri, otak kita berreaksi sebaliknya & kembali bertanya? ada apa dibelakang? kenapa saya tdk boleh tengok kebelakang, sehingga “hasrat keinginan kita justru menjadi ingin menengok kebelakang. karena otak berusaha mendelet kata2 “jangan”, sehingga menjadi “tengok kebelakang” tdk jarang sebagain besar manusia, malah memilih “menengok kebelakang” dari pada “Jangan tengok kebelakang”.

Tahukan anda apa kesalahan terbesar Nabi Adam AS, hingga diturunkan kebumi? Jawabannya ternyata kesalahan “Fikiran” Nabi Adam AS diperintah Allah untuk “Tidak memakan buah Quldi & Jangan dekati buah Quldi” dari larangan Allah tersebut, Malah terbesit didalam fikiran Nabi Adam AS sebuah pertanyaan “Mengapa Allah melarangku mendekati atau memakan buah Quldi?” lalu apa yg dilakukan Nabi Adam AS? beliau justru mencari “buah yg dimaksud oleh Allah” yg dilarangnya tersebut, memang maksud Nabi Adam AS, untuk mengetahui buah yg mana yg harus dijauhi? tapi apa kenyataannya? Nabi Adam AS, malah terpelosok kelubang larangan tersebut. Ini artinya betapa bahayanya “Fikiran” tersebut, jika kita tak bisa mengelolahnya.

KEKUATAN KHUSNUDZON
* bayangkan jika 60.000 fikiran kita perharinya seluruhnya Positive Thinking? Subhanwllah yg terjadi adalah “The Power Of Positif Thinking” yg dapat merubah hidup kita menjadi Wujud kehidupan nyata yg Positif (Bahagia, Senang, tenang, damai, tentram)

*Magnet Low of Attaction (LOA) – “Fokus Kita” dapat menentukan arah hidup kita. Jadi usahakan agar kita selalu Fokus kepada kebaikan2 saja & usahakanlah untuk membayangkan dalam benak kita tentang hal2 yg baik2 saja & yakini sebagai kenyataan yang akan terwujud, karena tak ada yg tak mungkin bagi Allah (Kun fayakun)

*”Harapan Anda” adalah daya pikat yg kuat, semakin besar harapan kita, semakin mudah tuk terwujud menjadi nyata, hanya tinggal kita”nya saja yg pandai2 memilihnya. Yg pasti Harapan Positif menarik Wujud Positif & Harapan Negatif akan menarik Wujud Negatif.

Dibawah ini adalah Rujukan Ilahi tentang “Fikiran”

1. inni Inda Dzhonni ‘abdi bi… sesungguhnya aku menuruti PERSANGKAAN umatku. (hadist Qudsi HR Bukhori Muslim)

2. …dan jika kamu menuruti kebanyakan orang2 yg dimuka bumi ini, niscahya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti “PERSANGKAAN” belaka & mereka tdk lain hanyalah berdusta terhadap Allah (Qs 6 :116)

3. Sesungguhnya sebagian dari PRASANGKA itu dosa (QS 49 : 12)

Dari kesimpulan yg saya tulis ini, maka marilah kita senantiasa untuk berfikir Postif. sehingga terwujud kehidupan nyata yg positif (Baik) pula yg merupakan hasil dari proyeksi alam fikiran kita sendiri.

Wawllahu a’lam bissawab.
Wassalamualaikum wr.wb

Sumber : http://www.wisatahati.com

Muslimah Da’iyah Sejati

July 1, 2009 at 10:15 am | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Muslimah di Rumah Tangga

Istri Teladan.

Istri teladan mampu memahami kebutuhan suami tercinta pendamping hidupnya. Sekalipun sang suami pengemban dakwah, ia juga manusia yang sama seperti suami-suami yang lain. Pengemban dakwah harus bisa menciptakan rumah tangga yang harmonis (rumahku surgaku), juga kehidupan suami-istri yang romantis. Istri salihah selalu berusaha memelihara rumahnya dan memenuhi hak-hak suaminya. Dia selalu taat dan berbakti kepada suami. Dia juga harus berbakti kepada mertua dan menghormati keluarga suami.

Istri teladan berusaha memperoleh dan mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada suaminya, dengan penampilan yang baik, kata-kata yang lembut serta pergaulan yang disenangi suaminya. Dia selalu menyampaikan berita gembira. Jika ada berita menyedihkan dan mengguncang jiwa suami, ia akan memilih waktu dan cara yang tepat.

Istri teladan biasa membantu suami menaati Allah, baik dalam ibadahnya, dakwahnya, akhlaknya, dll. Dengan itu, mereka berdua selalu berada di bawah naungan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Istri teladan selalu berusaha mengambil hati suami supaya tidak timbul kebosanan, penyelewengan dan kekeruhan hati suami. Ia akan selalu berhias untuk suami sehingga suami selalu melihatnya dalam keadaan cantik dan menyenangkan.

Istri semakin cantik di mata suami jika memiliki sifat ceria, riang, gembira dan ramah tamah. Ketika pulang dalam keadaan letih, suami disambut dengan wajah ceria, senyum merekah dan kata-kata yang menyenangkan hingga lenyap keletihan dan beban pikirannya. Istri teladan akan selalu berterima kasih setiap kali suami melakukan kebaikan kepadanya.

Istri teladan senantiasa menyertai suami saat suka dan duka, terutama ketika suami ada di rumah. Ia menjadi penyejuk, penenang, pemaaf dan penghibur bagi suaminya. Dengan penuh cinta kasih, istri berusaha mewujudkan ketenangan, kegembiraan, kesejahteraan, ketentraman, kenikmatan yang halal dan kebahagiaan pada suami dan terus-menerus meraih/meminta keridhaannya.

Istri teladan akan memberikan kesempatan kepada suami agar menjadi ujung tombak dakwah dan mengorbankan apa pun demi dakwah. Ia sebagaimana Khadijah ra. yang mengorbankan hartanya demi dakwah Nabi saw. dan menenangkan Beliau kalau mengarungi kesulitan di medan dakwah. Ia seperti Fatimah ra. yang rela tangannya menjadi kasar karena mengerjakan tugas rumah tangga untuk memuluskan langkah Ali ra. dalam kancah dakwah. Khadijah dan Fatimah tak pernah menuntut harta, waktu dan beban rumah tangga yang berlebihan sehingga suami mereka lalai dalam dakwah.

Istri teladan adalah sahabat bagi suaminya. Layaknya kedua orang bersahabat, dalam rumah tangga akan timbul saling mengerti, saling berbagi, dan saling menyayangi.

Ibu Teladan.

Ibu teladan mengemban tanggung jawab sebagai pendidik pertama dan utama bagi generasi-generasi cerdas dan pencipta peradaban, yang pengaruhnya menyentuh seluruh jagad raya. Sekalipun ibu teladan seorang aktivis dakwah, anak tetap memiliki hak yang harus dipenuhi seperti anak-anak lainnya.

Kemuliaan, kehormatan, kesuksesan, ketakwaan dan kepemimpinan para tokoh-tokoh besar di kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ at-Tabi’in merupakan hasil tangan dingin dari para ibu-ibu yang agung, yang berhasil menanamkan jiwa kebesaran, nilai-nilai kemuliaan, dan semangat yang tinggi ke dalam jiwa putra-putrinya.

Ibu teladan lebih dekat serta mengenal keadaan dan perkembangan anak pada masa-masa pertumbuhan dan puber yang merupakan masa paling rawan bagi kehidupan mental, jiwa dan tingkah laku anak. Ibu teladan selalu meneteskan cinta, kasih sayang, kelembutan, penuh perhatian, pengorbanan dan senantiasa memberikan perlindungan kepada anak-anaknya, yang mengalir dari hatinya yang lapang. Anak pun dapat hidup bahagia, jiwanya sehat dan jauh dari berbagai penyakit dan permasalahan; hatinya penuh kepercayaan dan ketenangan serta optimis.

Ibu teladan mengerti jiwa, menghormati perbedaan karakter dan kecenderungan anak-anaknya sehingga dapat memasuki jiwa anak dan menyelami dunia yang masih bersih dan jernih, untuk menanamkan nilai-nilai luhur keislaman. Ibu teladan senantiasa pandai menarik hati anak agar mau membuka jiwa dan hatinya serta mengungkapkan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Ibupun menanggapinya dan berusaha untuk mengatasinya.

Ibu teladan selalu menyempatkan diri bermain dan bercanda dan berbasa-basi dengan anak, menyampaikan ungkapan-ungkapan yang menyenangkan, lemah-lembut dan penuh kasih sayang tanpa pilih kasih. Semua anaknya semakin cinta, sayang dan tidak pernah merasa bosan mendengarkan arahan dan bimbingannya. Dengan kesadaran hati mereka menjalankan perintah dan menerapkan nasihatnya; lidah mereka basah memanjatkan doa dan mereka senantiasa berbakti, menghargai dan menghormatinya.

Siraman kasih sayang ibu menjadi sumber inspirasi, kebaikan, kreasi, faktor kebahagiaan dan kesejahteraan anak. Inilah sesuatu yang sangat berharga dan mulia pada kodrat kewanitaan, yang menjadi taman surgawi dunia. Ibu teladan akan selalu menjaga perkataan dan perbuatannya yang akan diteladani anak. Ibu teladan tidak kehilangan kesadaran dan keseimbangan emosinya sampai tega menyumpahi anaknya. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian menyumpahi diri kalian; jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian. Kalian tidak mengetahui saat permintaan (doa) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu.”

Ibu teladan selalu mengawasi pendidikan anak dan mengarahkan anak dalam memilih buku bacaan, majalah, teman, kegemaran, sekolah, guru, dan saran informasi serta segala sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam membentuk kepribadian anak, mendidik mental, jiwa dan akidah mereka. Itu ia lakukan dengan cara yang baik, tepat dan menyelamatkan serta selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan suami.

Ibu teladan bisa menyusup dalam jiwa anak yang paling tersembunyi lalu menanamkan sifat mulia dan nilai Islam yang luhur dengan baik dan tepat; memberikan teladan, bergaul dan memperlakukannya dengan baik, penuh perhatian, kelembutan, persamaan dan keadilan; serta memberinya nasihat dan bimbingan. Anak pun tumbuh normal dengan kedewasaan, wawasan luas, pemikiran matang, salih, berbakti, memberikan sumbangan yang dibutuhkan dan membangun di berbagai lini kehidupan.

Muslimah dalam Aktivitas Dakwah

Setiap Muslimah dalam proses aktivitas dakwah, harus senantiasa membangun dirinya agar memiliki karakter pemimpin yang baik. Beberapa karakter pemimpin yang baik di antaranya adalah:

1. Tidak bergaya instruksional.

Pemimpin yang sesungguhnya bukan sekedar mengumpulkan massa, lalu memaksa melakukan ini dan itu dengan gaya instruksi. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan di kantor, yang dilakukan oleh atasan kepada para karyawannya yang digaji. Kepemimpinan dalam dakwah dan kepemimpinan di tengah masyarakat bersifat sosial, sukarela dan tidak dibayar. Jadi, kepemimpinan bergaya instruksional dan diktator, yang hanya mengandalkan controling dan monitoring tidak akan berhasil. Kepemimpinan seperti itu hanya akan menghasilkan suasana penuh ketakutan. Rasa ketakutan akan mematikan potensi seseorang, karena selalu hidup dalam suasana penuh tekanan dan keterpaksaan, bukan kepatuhan.

2. Pendekatan ide kepemimpinan berpikir.

Pemimpin yang baik harus melakukan pendekatan yang benar terhadap sekelilingnya. Dia harus berbaur dan menyatu dengan orang-orang yang dipimpinnya, bukannya mengambil jarak dan menjadi mercusuar bagi sekelilingnya.

Kepemimpinan dakwah harus menggunakan pendekatan ide, karena kepemimpinan dakwah adalah kepemimpinan berpikir. Aktivis dakwah harus dapat menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Jadi, pemimpin yang baik harus bisa menjadi inspirator dan motivator, bukan diktator. Orang-orang yang dipimpinnya pun bergerak karena kepemimpinan berpikir, bukan karena taklif (instruksi).

3. Selalu berprasangka baik.

Aktivis dakwah tidak boleh diliputi prasangka buruk (su’uzhan), tetapi selalu diwarnai prasangka baik (hushnuzhan). Jadi, pemimpin jangan hanya melihat kesalahan atau kelemahan dari orang-orang di sekelilingnya, tetapi harus bisa menunjukkan kebaikan mereka sehingga mereka selalu berpikir optimis dan selanjutnya akan menimbulkan rasa percaya diri untuk bisa meraih kesuksesan.

4. Permudahlah, jangan mempersulit.

Buatlah segala sesuatu menjadi mudah, dan jangan dipersulit. Rasulullah saw. ketika menyeru kepada manusia tidak pernah memaksa, tetapi selalu mengingatkan pada janji-janji Allah. Pada saat Perang Khandaq, ketika Beliau meminta-minta berulang-ulang kepada para Sahabat agar ada yang memata-matai musuh untuk mencari informasi, dan tidak ada yang merespon, Beliau tidak mencela para Sahabat, tetapi mengingatkan dan terus mengingatkan bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada kita kalau kita melakukan perintah-Nya. Akhirnya Beliau mengutus Huzaifah untuk tugas spionase tersebut.

5. Memahami realitas manusia sebagai manusia.

Semua manusia punya kelemahan. Pemimpin harus selalu menasihati, jangan pernah bosan. Abdurrahman bin Rawahah sebagai komandan perang tidak pernah mengatakan kepada pasukannya, “Kalian kan para Sahabat, kok takut berperang.” Namun, beliau mengingatkan, “Kita berjuang dengan kekuatan iman kepada Allah dan bukan dengan kekuatan jumlah atau fisik.

Jadi, pemimpin yang baik harus memiliki pengertian terhadap orang yang dipimpinnya, lalu memotivasi dengan mengingatkan tentang ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, pemimpin tersebut akan mendapat banyak kepercayaan dari orang-orang di sekelilingnya.

6. Memberikan kenyamanan kepada yang dipimpin.

Pemimpin yang baik, ketika berada dimanapun dia disukai, dicintai, bahkan ditunggu-tunggu sebagai tempat curhat, mencari solusi; bukan sebaliknya, menimbulkan ketakutan. Ia memiliki kemampuan empati kepada orang lain dan mau mendengarkan masukan-masukan dari yang dipimpinnya. Ia pun berusaha mencari tahu kesalahannya sebagai pemimpin dari orang lain.

Ketika ada kesalahan, justru mengingatkan bahwa kita masih memiliki banyak kebaikan-kebaikan lain sehingga setiap kesalahan pasti ada jalan keluarnya, dan memberikan keyakinan bahwa kita pasti bisa.

7. Kondisikan selalu hubungan sebuah tim.

Tujuan dakwah yang agung, yaitu melanjutkan kembali kehidupan Islam, memerlukan sebuah kerjasama tim yang solid. Oleh karena itu, setiap pemimpin perlu mengkondisikan hubungan tim dalam dakwahnya. Diperlukan upaya pemetaan terhadap potensi dan kondisi yang ada pada setiap individu dan di sekitarnya, kemudian merencanakan bersama apa yang bisa dilakukan dengan potensi dan kondisi yang ada.

Selayaknya sebuah tim, kekurangan dari yang satu akan ditutupi oleh kelebihan dari yang lain.

Khatimah

Dengan karakteristik pemimpin yang dipaparkan di atas, maka setiap orang akan termotivasi dengan mengatakan, “Apa yang bisa kita berikan untuk Islam dan dakwah ini?”

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

[Ummu Hafidz]

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.