Mencegah Perselingkuhan

October 30, 2009 at 4:41 pm | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

selingkuh

Oleh : Zulia Ilmawati
(Psikolog, Pemerhati Masalah Anak dan Keluarga)

Dalam waktu terakhir ini kita semakin sering mendengar berita perselingkuhan yang marak di mana-mana. Sejumlah skandal seks menimpa politisi. Di luar ini, disinyalir masih banyak pejabat dan anggota legislatif lain, serta anggota masyarakat biasa yang berperilaku bejat, berselingkuh atau berzina dengan wanita yang bukan istrinya atau dengan lelaki bukan suaminya.

Penyebab Selingkuh

1. Masalah internal.

Pernikahan pada dasarnya mempertemukan dua orang yang mempunyai kepribadian, sifat, karakter, latar belakang keluarga dan problem yang berbeda satu sama lain. Karena itu, tidak mengherankan jika kehidupan dalam rumah tangga kadang tidak seindah harapan. Ketidakmatangan masing-masing pasangan ikut mempengaruhi dinamika yang terjadi dalam menghadapi setiap persoalan rumah tangga. Jika masing-masing tidak berusaha untuk memperbaiki diri atau malah justru mencari hiburan dan kompensasinya sendiri, maka pengikat di antara keduanya semakin pudar. Jika ini tidak segera diatasi, cepat atau lambat akan mempengaruhi kualitas hubungan suami-istri. Sikap apatis, pasif atau bahkan pasif-agresif bisa menjadi indikasi adanya masalah dalam kehidupan pernikahan seseorang.

Emotional divorce (keterpecahan emosi), yang banyak dialami oleh suami-istri, baik yang baru maupun yang sudah lama menikah, membuat hubungan cinta kasih akhirnya padam dan menjadi dingin. Meskipun secara fisik pasangan suami-istri masih tinggal serumah, secara emosional terdapat jarak yang membentang. Dengan pudarnya cinta dan kasih sayang, semakin longgarlah ikatan dan komunikasi di antara pasangan yang bisa mendorong salah satu atau keduanya mencari seseorang yang dapat memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan emosional maupun kebutuhan fisik, termasuk seks. Apalagi jika kemudian masing-masing pasangan tidak memiliki pemahaman tentang bagaimana seharusnya menjalani kehidupan berumah tangga dan mengatasi persoalan yang muncul menurut ajaran Islam.

Debbie Layton-Tholl mengungkapkan bahwa perselingkuhan yang dilakukan oleh orang-orang yang sudah menikah pada dasarnya bukan karena untuk mencari kepuasan seksual semata. Prosentase terbesar (90%) perselingkuhan terjadi karena tidak terpenuhinya kebutuhan emosional pasangan. Kebutuhan seksual bukanlah menjadi alasan pertama dan utama. Perilaku seksual yang sering mewarnai affair ataupun perselingkuhan sering hanya merupakan sarana untuk memelihara dan mempertahankan affair tersebut, bukan menjadi alasan utama.

2. Masalah eksternal.

Dalam pandangan kapitalis hubungan pria dan wanita merupakan pandangan yang bersifat seksual semata, bukan pandangan untuk melestarikan keturunan manusia. Oleh karena itu, mereka sengaja menciptakan fakta-fakta yang terindra dan pikiran-pikiran yang mengundang hasrat seksual di hadapan pria dan wanita dalam rangka membangkitkan dorongan seksual untuk dipenuhi. Mereka menganggap bahwa gejolak naluri yang tidak dipenuhi mengakibatkan kerusakan pada diri manusia, baik terhadap fisik, psikis, maupun akalnya. Dari sini, kita bisa memahami, mengapa banyak komunitas masyarakat selalu menciptakan pikiran-pikiran yang mengundang hasrat seksual (fantasi-fantasi seksual), baik dalam cerita-cerita, lagu-lagu, maupun berbagai karya mereka lainnya. Belum lagi kebiasaan gaya hidup campur-baur antara pria dan wanita yang tidak semestinya di dalam maupun di luar rumah. Semua ini muncul karena mereka menganggap tindakan-tindakan semacam itu merupakan hal yang lazim dan penting sebagai bagian dari sistem dan gaya hidup mereka.

Kiat Menghindari Perselingkuhan Secara Islam

1. Menjalankan kehidupan rumah tangga secara islami.

Sebagai sebuah ibadah, pernikahan memiliki sejumlah tujuan mulia. Memahami tujuan itu sangatlah penting guna menghindarkan pernikahan bergerak tak tentu arah yang akan membuatnya sia-sia tak bermakna. Tujuan-tujuan itu adalah untuk mewujudkan mawaddah dan rahmah, yakni terjalinnya cinta-kasih dan tergapainya ketenteraman hati (sakinah) (QS ar-Rum: 21); melanjutkan keturunan dan menghindarkan dosa; mempererat tali silaturahmi; sebagai sarana dakwah; dan menggapai mardhatillah. Jika tujuan pernikahan yang sebenarnya dipahami dengan benar, insya Allah akan lebih mudah bagi suami-istri meraih keluarga sakinah dan terhindar dari konflik-konflik yang berkepanjangan. Sebab, kesepahaman tentang tujuan pernikahan sesungguhnya akan menjadi perekat kokoh sebuah pernikahan.

Islam memandang pernikahan sebagai “perjanjian yang berat (mîtsâq[an] ghalîdza)” (QS an-Nisa’ [4]: 21) yang menuntut setiap orang yang terikat di dalamnya untuk memenuhi hak dan kewajibannya.

Islam mengatur dengan sangat jelas hak dan kewajiban suami-istri, orangtua dan anak-anak, serta hubungan dengan keluarga yang lain. Islam memandang setiap anggota keluarga sebagai pemimpin dalam kedudukannya masing-masing. Dengan kata lain, pernikahan haruslah dipandang sebagai bagian dari amal shalih untuk menciptakan pahala sebanyak-banyaknya dalam kedudukan masing-masing melalui pelaksanaan hak dan kewajiban dengan sebaik-baiknya. Ketimpangan atau terabaikannya hak dan kewajiban, misalnya soal nafkah, pendidikan atau perlindungan, tentu akan dengan sangat mudah menyulut perselisihan dalam keluarga yang bisa berpeluang untuk terjadi perselingkuhan.

2. Atasi berbagai persoalan suami-istri dengan cara yang benar (islami) dan tidak melibatkan orang (lelaki atau perempuan) lain.

Dalam kehidupan rumah tangga, tidak selalu mudah menyatukan dua pribadi yang berbeda dan dengan latar belakang yang berbeda. Konflik menjadi suatu hal yang mudah terjadi dalam kehidupan rumah tangga.

Kesabaran merupakan langkah utama ketika mulai muncul perselisihan. Islam memerintahkan kepada suami-istri agar bergaul dengan cara yang baik, serta mendorong mereka untuk bersabar dengan keadaan masing-masing pasangan; karena boleh jadi di dalamnya terdapat kebaikan-kebaikan. Jika dibutuhkan orang ketiga untuk membantu menyelesaikan persoalan maka jangan sekali-sekali melibatkan lawan jenis yang bukan mahram-nya; seperti teman sekantor, tetangga, kenalan dan sebagainya. Awalnya mungkin hanya sebatas curhat, tetapi tanpa disadari, jika sudah mulai merasa nyaman, persoalan mungkin justru tidak terpecahkan, yang kemudian terjadi adalah munculnya rasa saling ketergantungan dan ketertarikan. Hal ini bisa menjadi awal dari kedekatan di antara mereka dan peluang untuk terjadinya perselingkuhan.

3. Menjaga pergaulan dengan lawan jenis di tengah-tengah masyarakat.

Dalam pandangan Islam hubungan antara pria dan wanita merupakan pandangan yang terkait dengan tujuan untuk melestarikan keturunan, bukan semata-mata pandangan yang bersifat seksual. Dalam konteks itulah, Islam menganggap berkembangnya pikiran-pikiran yang mengundang hasrat seksual pada sekelompok orang merupakan keadaan yang membahayakan. Oleh karena itu, Islam memerintahkan pria dan wanita untuk menutup aurat, menahan pandangannya terhadap lawan jenis, melarang pria dan wanita ber-khalwat, melarang wanita bersolek dan berhias di hadapan laki-laki asing (non-mahram). Islam juga telah membatasi kerjasama yang mungkin dilakukan oleh pria dan wanita dalam kehidupan umum serta menentukan bahwa hubungan seksual antara pria dan wanita hanya boleh dilakukan dalam dua keadaan, yaitu: lembaga pernikahan dan pemilikan hamba sahaya.

4. Memberikan hukuman bagi para pelaku perselingkuhan.

Pada hakikatnya perselingkuhan sama dengan perzinaan. Dalam pandangan Islam seorang yang berselingkuh/berzina mendapatkan hukuman yang sangat berat. Jika belum menikah, pelakunya harus dicambuk 100 kali, dan untuk yang sudah menikah harus dirajam sampai mati. Hukuman yang berat ini akan menjadi pelajaran bagi pelakunya hingga menimbulkan jera sekaligus sebagai penebus dosa atas perbuatan yang dilakukan. Jika hukuman ini diterapkan, seseorang akan berpikir panjang sebelum melakukan perselingkuhan. []

Advertisements

Agar Suami Selalu Cinta

July 3, 2009 at 5:15 pm | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Oleh : Yesi Elsandra

Baitijannati. “Sayang, I love you!” Hari ini entah sudah untuk yang keberapa kalinya suamiku membisikan kata itu dengan lembut tidak saja langsung bibirnya menempel di telingaku, tetapi juga melalui SMS ketika dia sudah di kantor. Biasanya akupun langsung membalasnya, I love you too, mas. Terima kasih telah menjadi suamiku.”

Aku menyadari, aku memiliki bebrapa kelebihan, tetapi sesungguhnya kekuranganku jauh melebih kelebihan yang aku punya. Aku bukan perempuan yang cantik jelita seperti ratu balqis, bukan pula wanita kaya raya seperti ummahatul mu’minin Khadijah. Walaupun tidak buta, tetapi pemahamanku terhadap Islampun masih perlu perbaikan.Tak banyak yang istimewa yang aku punya, makanya aku sangat bersyukur sekali Allah menghadirkan seseorang yang Allah halalkan tidak saja hatinya tetapi juga fisiknya padaku. Walaupun aku hanyalah perempuan biasa, Allah memberiku seorang laki-laki yang sholeh, baik, rendah hati dan amat sangat sayang padaku.

Ibuku pernah berpesan, ada empat perkara yang harus kita perhatikan agar tercipta syurga dunia dalam rumah tangga. Sebagai seorang istri kita memang dituntut untuk memaksimalkan kemamapuan agar indah dipandang mata, sejuk dilihat, tenang ditinggal, membangkitkan gairah, dan menumbuhkan ketaatan suami kepada Allah. Disamping menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak kita.

Pertama, mampu memberikan kepuasan di tempat tidur. Tempat tidur adalah ruang yang paling privacy antara kita dan suami. Disanalah biasanya suami mengurai keletihan setelah bekerja seharian. Tempat tidur juga merupakan tempat dimana biasanya suami istri menunaikan hajat seksualnya. Untuk itu istri di tuntut untuk menata tempat tidur dengan baik, bersih dan harum. Istri perlu memahami kebutuhan seksual suami, memenuhi ajakan bersetubuh dengan segera, memberikan kepuasan maksimal dalam bersetubuh, jika perlu tidak ada salahnya istri menawarkan diri.

Kedua, menciptakan keindahan di dalam rumah, menatanya dengan penuh artistik, serta menjaga harta yang ada di dalamnya. Rumah yang besar belum tentu menciptakan ketenangan dan kedamaian. Perabotan yang banyak lagi mahal tidak juga bisa membuktikan penghuninya adalah pasangan yang berbahagia. Keindahan di sini adalah keindahan yang terpancar dari tangan lembut dan keikhlasan penatanya, yaitu istri yang sholehah, qonaah, tawadhu, dan rendah hati.

Ketiga, mendidik dan menjaga anak-anak. Anak-anak adalah amanah, anak-anak adalah investasi, anak-anak merupakan hiburan bagi kita. Anak-anak yang bersih, sehat, cerdas adalah dambaan orang tuanya. Menjadikan anak-anak kita sholeh, cerdas, sehat dan bersih membuktikan keberhasilan kita mendidik mereka. Suami akan bekerja lebih giat untuk mencari nafkah jika melihat anak-anak dalam kondisi seperti ini.

Keempat, saling memaafkan. Suami istri berasal dari dua keluarga yang berbeda, kebiasaan yang berbeda, adat-istiadat yang berbeda, sifat yang berbeda. Keduanya bukanlah makhluk yang sempurna yang tak pernah salah. Keduanya sama-sama memiliki kekurangan. Meminta maaf terlebih dahulu jika memiliki salah dan segera memaafkan suami serta tidak mengungkit-ungkit lagi kesalahan yang pernah ada akan menautkan lagi kemesraan kita berdua.

Seorang suami tidak akan memikirkan perempuan lain jika istri mampu menampilkan semua ini dihadapanya. Memberikan kebahagiaan lahir batin, menciptakan suasana segar, serta istri yang menentramkan jiwa. Tak akan pula ada percekcokan, sakit hati atau penyesalan telah mengikat janji berdua dihadapan Allah aza wajalla. Yang ada adalah ungapan sayang, kata-kata mesra, cinta yang selalu berbunga, mudah-mudahan berkah Allah selalu melingkupinya.

Muslimah Da’iyah Sejati

July 1, 2009 at 10:15 am | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Muslimah di Rumah Tangga

Istri Teladan.

Istri teladan mampu memahami kebutuhan suami tercinta pendamping hidupnya. Sekalipun sang suami pengemban dakwah, ia juga manusia yang sama seperti suami-suami yang lain. Pengemban dakwah harus bisa menciptakan rumah tangga yang harmonis (rumahku surgaku), juga kehidupan suami-istri yang romantis. Istri salihah selalu berusaha memelihara rumahnya dan memenuhi hak-hak suaminya. Dia selalu taat dan berbakti kepada suami. Dia juga harus berbakti kepada mertua dan menghormati keluarga suami.

Istri teladan berusaha memperoleh dan mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada suaminya, dengan penampilan yang baik, kata-kata yang lembut serta pergaulan yang disenangi suaminya. Dia selalu menyampaikan berita gembira. Jika ada berita menyedihkan dan mengguncang jiwa suami, ia akan memilih waktu dan cara yang tepat.

Istri teladan biasa membantu suami menaati Allah, baik dalam ibadahnya, dakwahnya, akhlaknya, dll. Dengan itu, mereka berdua selalu berada di bawah naungan rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

Istri teladan selalu berusaha mengambil hati suami supaya tidak timbul kebosanan, penyelewengan dan kekeruhan hati suami. Ia akan selalu berhias untuk suami sehingga suami selalu melihatnya dalam keadaan cantik dan menyenangkan.

Istri semakin cantik di mata suami jika memiliki sifat ceria, riang, gembira dan ramah tamah. Ketika pulang dalam keadaan letih, suami disambut dengan wajah ceria, senyum merekah dan kata-kata yang menyenangkan hingga lenyap keletihan dan beban pikirannya. Istri teladan akan selalu berterima kasih setiap kali suami melakukan kebaikan kepadanya.

Istri teladan senantiasa menyertai suami saat suka dan duka, terutama ketika suami ada di rumah. Ia menjadi penyejuk, penenang, pemaaf dan penghibur bagi suaminya. Dengan penuh cinta kasih, istri berusaha mewujudkan ketenangan, kegembiraan, kesejahteraan, ketentraman, kenikmatan yang halal dan kebahagiaan pada suami dan terus-menerus meraih/meminta keridhaannya.

Istri teladan akan memberikan kesempatan kepada suami agar menjadi ujung tombak dakwah dan mengorbankan apa pun demi dakwah. Ia sebagaimana Khadijah ra. yang mengorbankan hartanya demi dakwah Nabi saw. dan menenangkan Beliau kalau mengarungi kesulitan di medan dakwah. Ia seperti Fatimah ra. yang rela tangannya menjadi kasar karena mengerjakan tugas rumah tangga untuk memuluskan langkah Ali ra. dalam kancah dakwah. Khadijah dan Fatimah tak pernah menuntut harta, waktu dan beban rumah tangga yang berlebihan sehingga suami mereka lalai dalam dakwah.

Istri teladan adalah sahabat bagi suaminya. Layaknya kedua orang bersahabat, dalam rumah tangga akan timbul saling mengerti, saling berbagi, dan saling menyayangi.

Ibu Teladan.

Ibu teladan mengemban tanggung jawab sebagai pendidik pertama dan utama bagi generasi-generasi cerdas dan pencipta peradaban, yang pengaruhnya menyentuh seluruh jagad raya. Sekalipun ibu teladan seorang aktivis dakwah, anak tetap memiliki hak yang harus dipenuhi seperti anak-anak lainnya.

Kemuliaan, kehormatan, kesuksesan, ketakwaan dan kepemimpinan para tokoh-tokoh besar di kalangan Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ at-Tabi’in merupakan hasil tangan dingin dari para ibu-ibu yang agung, yang berhasil menanamkan jiwa kebesaran, nilai-nilai kemuliaan, dan semangat yang tinggi ke dalam jiwa putra-putrinya.

Ibu teladan lebih dekat serta mengenal keadaan dan perkembangan anak pada masa-masa pertumbuhan dan puber yang merupakan masa paling rawan bagi kehidupan mental, jiwa dan tingkah laku anak. Ibu teladan selalu meneteskan cinta, kasih sayang, kelembutan, penuh perhatian, pengorbanan dan senantiasa memberikan perlindungan kepada anak-anaknya, yang mengalir dari hatinya yang lapang. Anak pun dapat hidup bahagia, jiwanya sehat dan jauh dari berbagai penyakit dan permasalahan; hatinya penuh kepercayaan dan ketenangan serta optimis.

Ibu teladan mengerti jiwa, menghormati perbedaan karakter dan kecenderungan anak-anaknya sehingga dapat memasuki jiwa anak dan menyelami dunia yang masih bersih dan jernih, untuk menanamkan nilai-nilai luhur keislaman. Ibu teladan senantiasa pandai menarik hati anak agar mau membuka jiwa dan hatinya serta mengungkapkan berbagai permasalahan yang dihadapinya. Ibupun menanggapinya dan berusaha untuk mengatasinya.

Ibu teladan selalu menyempatkan diri bermain dan bercanda dan berbasa-basi dengan anak, menyampaikan ungkapan-ungkapan yang menyenangkan, lemah-lembut dan penuh kasih sayang tanpa pilih kasih. Semua anaknya semakin cinta, sayang dan tidak pernah merasa bosan mendengarkan arahan dan bimbingannya. Dengan kesadaran hati mereka menjalankan perintah dan menerapkan nasihatnya; lidah mereka basah memanjatkan doa dan mereka senantiasa berbakti, menghargai dan menghormatinya.

Siraman kasih sayang ibu menjadi sumber inspirasi, kebaikan, kreasi, faktor kebahagiaan dan kesejahteraan anak. Inilah sesuatu yang sangat berharga dan mulia pada kodrat kewanitaan, yang menjadi taman surgawi dunia. Ibu teladan akan selalu menjaga perkataan dan perbuatannya yang akan diteladani anak. Ibu teladan tidak kehilangan kesadaran dan keseimbangan emosinya sampai tega menyumpahi anaknya. Rasulullah bersabda, “Janganlah kalian menyumpahi diri kalian; jangan pula menyumpahi anak-anak kalian dan harta kalian. Kalian tidak mengetahui saat permintaan (doa) dikabulkan sehingga Allah akan mengabulkan sumpah itu.”

Ibu teladan selalu mengawasi pendidikan anak dan mengarahkan anak dalam memilih buku bacaan, majalah, teman, kegemaran, sekolah, guru, dan saran informasi serta segala sesuatu yang mempunyai pengaruh dalam membentuk kepribadian anak, mendidik mental, jiwa dan akidah mereka. Itu ia lakukan dengan cara yang baik, tepat dan menyelamatkan serta selalu berkoordinasi dan berkomunikasi dengan suami.

Ibu teladan bisa menyusup dalam jiwa anak yang paling tersembunyi lalu menanamkan sifat mulia dan nilai Islam yang luhur dengan baik dan tepat; memberikan teladan, bergaul dan memperlakukannya dengan baik, penuh perhatian, kelembutan, persamaan dan keadilan; serta memberinya nasihat dan bimbingan. Anak pun tumbuh normal dengan kedewasaan, wawasan luas, pemikiran matang, salih, berbakti, memberikan sumbangan yang dibutuhkan dan membangun di berbagai lini kehidupan.

Muslimah dalam Aktivitas Dakwah

Setiap Muslimah dalam proses aktivitas dakwah, harus senantiasa membangun dirinya agar memiliki karakter pemimpin yang baik. Beberapa karakter pemimpin yang baik di antaranya adalah:

1. Tidak bergaya instruksional.

Pemimpin yang sesungguhnya bukan sekedar mengumpulkan massa, lalu memaksa melakukan ini dan itu dengan gaya instruksi. Hal seperti ini hanya bisa dilakukan di kantor, yang dilakukan oleh atasan kepada para karyawannya yang digaji. Kepemimpinan dalam dakwah dan kepemimpinan di tengah masyarakat bersifat sosial, sukarela dan tidak dibayar. Jadi, kepemimpinan bergaya instruksional dan diktator, yang hanya mengandalkan controling dan monitoring tidak akan berhasil. Kepemimpinan seperti itu hanya akan menghasilkan suasana penuh ketakutan. Rasa ketakutan akan mematikan potensi seseorang, karena selalu hidup dalam suasana penuh tekanan dan keterpaksaan, bukan kepatuhan.

2. Pendekatan ide kepemimpinan berpikir.

Pemimpin yang baik harus melakukan pendekatan yang benar terhadap sekelilingnya. Dia harus berbaur dan menyatu dengan orang-orang yang dipimpinnya, bukannya mengambil jarak dan menjadi mercusuar bagi sekelilingnya.

Kepemimpinan dakwah harus menggunakan pendekatan ide, karena kepemimpinan dakwah adalah kepemimpinan berpikir. Aktivis dakwah harus dapat menggerakkan orang-orang di sekitarnya. Jadi, pemimpin yang baik harus bisa menjadi inspirator dan motivator, bukan diktator. Orang-orang yang dipimpinnya pun bergerak karena kepemimpinan berpikir, bukan karena taklif (instruksi).

3. Selalu berprasangka baik.

Aktivis dakwah tidak boleh diliputi prasangka buruk (su’uzhan), tetapi selalu diwarnai prasangka baik (hushnuzhan). Jadi, pemimpin jangan hanya melihat kesalahan atau kelemahan dari orang-orang di sekelilingnya, tetapi harus bisa menunjukkan kebaikan mereka sehingga mereka selalu berpikir optimis dan selanjutnya akan menimbulkan rasa percaya diri untuk bisa meraih kesuksesan.

4. Permudahlah, jangan mempersulit.

Buatlah segala sesuatu menjadi mudah, dan jangan dipersulit. Rasulullah saw. ketika menyeru kepada manusia tidak pernah memaksa, tetapi selalu mengingatkan pada janji-janji Allah. Pada saat Perang Khandaq, ketika Beliau meminta-minta berulang-ulang kepada para Sahabat agar ada yang memata-matai musuh untuk mencari informasi, dan tidak ada yang merespon, Beliau tidak mencela para Sahabat, tetapi mengingatkan dan terus mengingatkan bahwa Allah akan memberikan kebaikan kepada kita kalau kita melakukan perintah-Nya. Akhirnya Beliau mengutus Huzaifah untuk tugas spionase tersebut.

5. Memahami realitas manusia sebagai manusia.

Semua manusia punya kelemahan. Pemimpin harus selalu menasihati, jangan pernah bosan. Abdurrahman bin Rawahah sebagai komandan perang tidak pernah mengatakan kepada pasukannya, “Kalian kan para Sahabat, kok takut berperang.” Namun, beliau mengingatkan, “Kita berjuang dengan kekuatan iman kepada Allah dan bukan dengan kekuatan jumlah atau fisik.

Jadi, pemimpin yang baik harus memiliki pengertian terhadap orang yang dipimpinnya, lalu memotivasi dengan mengingatkan tentang ketaatan kepada Allah. Dengan demikian, pemimpin tersebut akan mendapat banyak kepercayaan dari orang-orang di sekelilingnya.

6. Memberikan kenyamanan kepada yang dipimpin.

Pemimpin yang baik, ketika berada dimanapun dia disukai, dicintai, bahkan ditunggu-tunggu sebagai tempat curhat, mencari solusi; bukan sebaliknya, menimbulkan ketakutan. Ia memiliki kemampuan empati kepada orang lain dan mau mendengarkan masukan-masukan dari yang dipimpinnya. Ia pun berusaha mencari tahu kesalahannya sebagai pemimpin dari orang lain.

Ketika ada kesalahan, justru mengingatkan bahwa kita masih memiliki banyak kebaikan-kebaikan lain sehingga setiap kesalahan pasti ada jalan keluarnya, dan memberikan keyakinan bahwa kita pasti bisa.

7. Kondisikan selalu hubungan sebuah tim.

Tujuan dakwah yang agung, yaitu melanjutkan kembali kehidupan Islam, memerlukan sebuah kerjasama tim yang solid. Oleh karena itu, setiap pemimpin perlu mengkondisikan hubungan tim dalam dakwahnya. Diperlukan upaya pemetaan terhadap potensi dan kondisi yang ada pada setiap individu dan di sekitarnya, kemudian merencanakan bersama apa yang bisa dilakukan dengan potensi dan kondisi yang ada.

Selayaknya sebuah tim, kekurangan dari yang satu akan ditutupi oleh kelebihan dari yang lain.

Khatimah

Dengan karakteristik pemimpin yang dipaparkan di atas, maka setiap orang akan termotivasi dengan mengatakan, “Apa yang bisa kita berikan untuk Islam dan dakwah ini?”

Wallahu a’lam bi ash-shawab.

[Ummu Hafidz]

Mengenalkan Allah pada Anak

June 26, 2009 at 12:16 pm | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, untuk mengawali bayi-bayi kita dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.” Kalimat suci inilah  yang kelak akan membekas pada otak dan hati mereka

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kalau anak-anak itu kelak tak menjadikan Tuhannya sebagai tempat meminta dan memohon pertolongan, barangkali kitalah penyebab utamanya. Kitalah yang menjadikan hati anak-anak itu tak dekat dengan Tuhannya. Bukan karena kita tak pernah mengenalkan –meskipun barangkali ada yang demikian—tetapi karena keliru dalam memperkenalkan Tuhan kepada anak. Kerapkali, anak-anak lebih sering mendengar asma Allah dalam suasana menakutkan.

Mereka mengenal Allah dengan sifat-sifat jalaliyah-Nya, sementara sifat jamaliyah-Nya hampir-hampir tak mereka ketahui kecuali namanya saja. Mereka mendengar asma Allah ketika orangtua hendak menghukumnya. Sedangkan saat gembira, yang mereka ketahui adalah boneka barbie. Maka tak salah kalau kemudian mereka menyebut nama Allah hanya di saat terjadi musibah yang mengguncang atau saat kematian datang menghampiri orang-orang tersayang.

Astaghfirullahal ‘adziim…

Anak-anak kita sering mendengar nama Allah ketika mereka sedang melakukan kesalahan, atau saat kita membelalakkan mata untuk mengeluarkan ancaman. Ketika mereka berbuat “keliru” –meski terkadang kekeliruan itu sebenarnya ada pada kita—asma Allah terdengar keras di telinga mereka oleh teriakan kita, “Ayo…. Nggak boleh! Dosa!!! Allah nggak suka sama orang yang sering berbuat dosa.”

Atau, saat mereka tak sanggup menghabiskan nasi yang memang terlalu banyak untuk ukuran mereka, kita berteriak, “E… nggak boleh begitu. Harus dihabiskan. Kalau nggak dihabiskan, namanya muba…? Muba…? Mubazir!!! Mubazir itu temannya setan. Nanti Allah murka, lho.”

Setiap saat nama Allah yang mereka dengar lebih banyak dalam suasana negatif; suasana yang membuat manusia justru cenderung ingin lari. Padahal kita diperintahkan untuk mendakwahkan agama ini, termasuk kepada anak kita, dengan cara “mudahkanlah dan jangan dipersulit, gembirakanlah dan jangan membuat mereka lari”. Anak tidak merasa dekat dengan Tuhannya jika kesan yang ia rasakan tidak menggembirakan. Sama seperti penggunaan kendaraan bermotor yang cenderung menghindari polisi, bahkan di saat membutuhkan pertolongan. Mereka “menjauh” karena telanjur memiliki kesan negatif yang tidak menyenangkan. Jika ada pemicu yang cukup, kesan negatif itu dapat menjadi benih-benih penentangan kepada agama; Allah dan rasul-Nya. Na’udzubillahi min dzalik.

Rasanya, telah cukup pelajaran yang terbentang di hadapan mata kita. Anak-anak yang dulu paling keras mengumandangkan adzan, sekarang sudah ada yang menjadi penentang perintah Tuhan. Anak-anak yang dulu segera berlari menuju tempat wudhu begitu mendengar suara batuk bapaknya di saat maghrib, sekarang di antara mereka ada yang berlari meninggalkan agama. Mereka mengganti keyakinannya pada agama dengan kepercayaan yang kuat pada pemikiran manusia, karena mereka tak sanggup merasakan kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Sebab, semenjak kecil mereka tak biasa menangkap dan merasakan kasih-sayang Allah.

Agaknya, ada yang salah pada cara kita memperkenalkan Allah kepada anak. Setiap memulai pekerjaan, apa pun bentuknya, kita ajari mereka mengucap basmalah. Kita ajari mereka menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Tetapi kedua sifat yang harus selalu disebut saat mengawali pekerjaan itu, hampir-hampir tak pernah kita kenalkan kepada mereka (atau jangan-jangan kita sendiri tak mengenalnya?). Sehingga bertentangan apa yang mereka rasakan dengan apa yang mereka ucapkan tentang Tuhannya.

Bercermin pada perintah Nabi saw. dan urutan turunnya ayat-ayat suci yang awal, ada beberapa hal yang patut kita catat dengan cermat. Seraya memohon hidayah kepada Allah atas diri kita dan anak-anak kita, mari kita periksa catatan berikut ini:

Awali Bayimu dengan Laa Ilaaha IllaLlah

Rasulullah saw. pernah mengingatkan, “Awalilah bayi-bayimu dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.”

Kalimat suci inilah yang perlu kita kenalkan di awal kehidupan bayi-bayi kita, sehingga membekas pada otaknya dan menghidupkan cahaya hatinya. Apa yang didengar bayi di saat-saat awal kehidupannya akan berpengaruh pada perkembangan berikutnya, khususnya terhadap pesan-pesan yang disampaikan dengan cara yang mengesankan. Suara ibu yang terdengar berbeda dari suara-suara lain, jelas pengucapannya, terasa seperti mengajarkan (teaching style) atau mengajak berbincang akrab (conversational quality), memberi pengaruh yang lebih besar bagi perkembangan bayi. Selain menguatkan pesan pada diri anak, cara ibu berbicara seperti itu juga secara nyata meningkatkan IQ balita, khususnya usia 0-2 tahun. Begitu pelajaran yang bisa saya petik dari hasil penelitian Bradley & Caldwell berjudul 174 Children: A Study of the Relationship between Home Environment and Cognitive Development during the First 5 Years.

Apabila anak sudah mulai besar dan dapat menirukan apa yang kita ucapkan, Rasulullah saw. memberikan contoh bagaimana mengajarkan untaian kalimat yang sangat berharga untuk keimanan anak di masa mendatang. Kepada Ibnu ‘Abbas yang ketika itu masih kecil, Rasulullah saw. berpesan:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasehat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan pada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh ummat manusia berkumpul untuk memberi manfaat padamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu itu.Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikit pun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain disebutkan, “Jagalah hak-hak Allah, niscaya engkau akan mendapatkan Dia ada di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika engkau berada dalam kelapangan, niscaya Allah pun akan mengingatmu ketika engkau berada dalam kesempitan. Ketahuilah bahwa segala sesuatu yang salah dalam dirimu tidak mesti engkau langsung mendapatkan hukuman-Nya. Dan juga apa-apa yang menimpa dirimu dalam bentuk musibah atau hukuman tidak berarti disebabkan oleh kesalahanmu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu akan datang ketika engkau berada dalam kesabaran, dan bersama kesempitan akan ada kelapangan. Juga bersama kesulitan akan ada kemudahan.”

Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Tak ada penolong kecuali Allah Yang Maha Kuasa; Allah yang senantiasa membalas setiap kebaikan. Tak ada tempat meminta kecuali Allah. Tak ada tempat bergantung kecuali Allah. Dan itu semua menunjukkan kepada anak bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah.

Wallahu a’lam bishawab.

Iqra’ Bismirabbikal ladzii Khalaq

Sifat Allah yang pertama kali dikenalkan oleh-Nya kepada kita adalah al-Khaliq dan al-Karim, sebagaimana firman-Nya, “Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Setidaknya ada tiga hal yang perlu kita berikan kepada anak saat mereka mulai bisa kita ajak berbicara.

Pertama, memperkenalkan Allah kepada anak melalui sifat-Nya yang pertama kali dikenalkan, yakni al-Khaliq (Maha Pencipta). Kita tunjukkan kepada anak-anak kita bahwa kemana pun kita menghadap wajah kita, di situ kita menemukan ciptaan Allah. Kita tumbuhkan kesadaran dan kepekaan pada mereka, bahwa segala sesuatu yang ada di sekelilingnya adalah ciptaan Allah. Semoga dengan demikian, akan muncul kekaguman anak kepada Allah. Ia merasa kagum, sehingga tergerak untuk tunduk kepada-Nya.

Kedua, kita ajak anak untuk mengenali dirinya dan mensyukuri nikmat yang melekat pada anggota badannya. Dari sini kita ajak mereka menyadari bahwa Allah Yang Menciptakan semua itu. Pelahan-lahan kita rangsang mereka untuk menemukan amanah di balik kesempurnaan penciptaan anggota badannya. Katakan, misalnya, pada anak yang menjelang usia dua tahun, “Mana matanya? Wow, matanya dua, ya? Berbinar-binar. Alhamdulillah, Allah ciptakan mata yang bagus untuk Owi. Matanya buat apa, Nak?”

Secara bertahap, kita ajarkan kepada anak proses penciptaan manusia. Tugas mengajarkan ini, kelak ketika anak sudah memasuki bangku sekolah, dapat dijalankan oleh orangtua bersama guru di sekolah. Selain merangsang kecerdasan mereka, tujuan paling pokok adalah menumbuhkan kesadaran –bukan hanya pengetahuan—bahwa ia ciptaan Allah dan karena itu harus menggunakan hidupnya untuk Allah.

Ketiga, memberi sentuhan kepada anak tentang sifat kedua yang pertama kali diperkenalkan oleh Allah kepada kita, yakni al-Karim. Di dalam sifat ini berhimpun dua keagungan, yakni kemuliaan dan kepemurahan. Kita asah kepekaan anak untuk menangkap tanda-tanda kemuliaan dan sifat pemurah Allah dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga tumbuh kecintaan dan pengharapan kepada Allah. Sesungguhnya manusia cenderung mencintai mereka yang mencintai dirinya, cenderung menyukai yang berbuat baik kepada dirinya dan memuliakan mereka yang mulia.

Wallahu a’lam bishawab.

Penulis adalah penulis kolom rubrik parenting di Majalah Hidayatullah

Terbang Ke Surga

May 22, 2009 at 4:40 pm | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

“Anak-anak, coba renungkan apa yang paling kamu inginkan dalam hidup ini ?” begitulah pertanyaan sorang ustadz yang sehari-hari mendampingi para santri kelas satu sebuah sekolah menengah pertama boardingschool di Bandung. Aghil (keponakan suamiku ) menjawab “saya ingin terbang ke surga”. Teman-temannyapun tertawa, karena mereka pada umumnya menjawab sewajarnya anak-anak belia “ke mall, ke luar negeri, ketemu artis, dll”.

Sang ustadz pun menanyakan kembali dengan pertanyaan yang sama. Jawaban aghil juga sama “aku ingin terbang ke surga”. Hingga diulangi untuk yang ketiga kalinya bocah berusia 12 tahaun itu masih menjawab dengan jawaban yang sama dan wajahnya tidak menunjukkan bercanda.

Kisah diatas dituturkan sang ustadz pada saat melayat Aghil. Tidak ada yang menyangka kepergiannya begitu cepat. Setelah satu minggu di rumah sakit, penyakitnya baru terdiagnosa “tumor ganas kalenjar getah bening”. Malam seteleh terdiagnosa dia muntah darah dan mengelurkan darah dari hidungnya. Pagi sebelum sholat subuh Allah telah memannggilnya. Suasana menjadi mengharukan bukan karena dia mati muda tapi proses menuju dia meninggal insyaAllah adalah perjalanan yang khusnul khotimah.

Teman-temannya bercerita bahwa hampir setiap malam di pesantrennya dia sering menagis karena giginya seperti mau lepas. Hinggga ketika sudah tidak tahan merasakan sakit barulah pulang dan opname. Saat masa mendiagnosis penyakitnya, Aghil mengeluarkan segala isi hati yang menjadikan rasa bersalah dan penyesalan kedua orangtuanya. ” Bu, Aghil mau curhat, sakitnya Aghil ini karena Azab. Aghil sebenarnya tidak mau masuk pesantren, jadi di pesantren Aghil bertemannya sama anak-anak yang nakal, anak-anak yang bodoh. Aghil minta maaf ya bu kalau Aghil salah”. Ibunya pun berurai air mata, bukan karena kesalahan sang anak, tapi karena menyesal tidak mengetahui keinginan sang anak, menyesal karena anaknya sampai takut menyampaikan isi hatinya, menyesal karena tidak memenuhi janjinya.

Sebelumnya mereka pernah berjanji memenuhi keinginan Aghil untuk les gitar saat SMP. Tapi janji itu ditunda menungggu prestasi Aghil di pesantren. Seiring perjalanan di pesantren Aghilpun berkata ”Pak, saya ndak usah les gitar, mahal, nanti juga bisa dikeluarkan dari pesantren”.

Aghil yang sehari-hari terlihat kekanak-kanakan menjadi begitu dewasa menjelang akhir hidupnya. Dia diberi kesempatan bertaubat, meminta maaf pada orangtuanya, menyampaikan cita-cita tertinggginya. Cita-cita yang mengalahkan keinginannnya untuk menjadi artis dan dapat uang banyak (Cita-cita inilah yang mengkhawatirkan sang Ibu).

Sebelum sakit Sang Ibu merasa Aghil jauh dari dunianya (kedua orangtuanya pendidik). Sang Ibu tidak memiliki jiwanya sebagaimana sang ibu bisa menjiwai kedua kakaknya. Sang Ibu yang menyesal mengapa semasa kecil Ia begitu nyaman menitipkan Aghil pada khodimat. Khodimat yang menurutnya sangat baik. Khodimat yang akhirnya menguasai jiwa Aghil.

Saat sang Ibu bisa mengerti isi hatinya, Ia diberi pilihan berdoa ”Antara mendokan bertahan hidup atau menyerahkan semuanya pada Sang Pemilik ruh” . Menjelang tengah malam Ia masih berdoa agar Aghil diberi kesembuhan, namun ketika melihat kondisi Aghil yang kesakitan, darah yang terus keluar, hatinyapun luruh, doanya berubah “Ya Allah berilah yang terbaik untuk anakkku”. Doa di pertiga malam terakhir ini dijawab menjelang subuh, aghil dijemput sang Jibril. Innalillahi wa innna ilaihi roji’un. InsyaAllah Aghil meninggal dengan jalan khusnul Khotimah, InsyaAllah keinginannnya untuk terbang ke surga tercapai.

Ayah Aghil berusaha menegarkan keluarga. “Jika kita ingin bergandengan tangan dengan Aghil di surga maka kita kita harus sekualitas dia”. Pun Sang Ibu selalu mewanti-wanti pada keluarga dan kerabat ”rawatlah anakmu baik-baik jangan serahkan dia pada orang lain, pahami keinginannya jangan paksakan dia pahami keinginan kita”.

Sumber : eramuslim.com

Anak Belajar dari Kehidupan Untuk Membentuk Dirinya

March 18, 2009 at 2:01 am | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Jika anak dibesarkan dengan kritikan, mereka akan belajar untuk mencela.

Jika anak dibesarkan dalam suasana permusuhan, mereka akan belajar untuk berseteru.

Jika anak dibesarkan dalam ketakutan, mereka belajar menjadi menjadi tidak berpengharapan.

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, mereka akan belajar menyayangi diri sendiri.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, mereka tumbuh sebagai pemalu.

Jika anak dibesarkan dengan kedengkian, mereka belajar iri hati.

Jika anak dibesarkan tanpa penghargaan, mereka tumbuh dalam rasa bersalah.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, mereka akan belajar untuk percaya diri.

Jika anak dibesarkan dalam toleransi, mereka akan belajar kesabaran.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, mereka akan belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan penerimaan, mereka akan belajar mencintai.

Jika anak dibesarkan dengan penghargaan, mereka akan belajar untuk mencintai dirinya.

Jika anak dibesarkan dengan pengakuan, mereka akan belajar untuk mempunyai tujuan.

Jika anak dibesarkan dalam suasana berbagi, mereka akan belajar
kedermawanan.

Jika anak dibesarkan dengan kejujuran, mereka akan belajar bersikap sebagaimana adanya.

Jika anak dibesarkan dalam keadilan, mereka akan belajar bersikap adil.

Jika anak dibesarkan dengan kebaikan dan perhatian, mereka akan belajar menghormati.

Jika anak dibesarkan dengan perlindungan, mereka akan belajar untuk mempunyai keyakinan terhadap diri sendiri dan terhadap segala yang ia miliki.

Jika anak dibesarkan dalam persahabatan, mereka belajar bahwa dunia adalah tempat yang menyenangkan.

Wanita, Ibu, Hari Ibu, Kartini, dan Buah dada

December 30, 2008 at 8:44 am | Posted in Beranda Keluarga | Leave a comment

Untuk Adik, Teman, dan Kakak Perempuanku

Bismillaahirrohmaanirrohiim

Saudariku yang cantik….bagaimana kabar hatimu?

Semoga Sang Pembolak-balik hati selalu menjagamu dengan RahmatNya..

Oh iya…aku tanyakan sesuatu yang menggelitik hati.

Apakah gelasmu yang hanya satu itu, telah kau isi sesuatu?

Jika sudah, apakah air itu sebuah nama, materi, kedudukan, pemikiran, atau selainnya? Apapun itu, berhati-hatilah dengannya!

Jika belum, maka ketahuilah bahwasanya hatimu akan terus mencari “pasangan”nya. Berkata ibnul Qoyyim Al Jauziyyah “Sesungguhnya hati diciptakan untuk mencintai pihak yang berbuat baik kepadanya.” Kalau begitu, kepada siapa kau tambatkan hati. Pantaskah ia masuk mengisi relung hatimu, “menemani”mu setiap saat, dan menjagamu dari marabahaya? Sebelum kau cari dan kau cintai dia, jawablah pertanyaan-pertanyaan ini dengan diawali melapangkan hati.

Tahukah kamu, siapa yang menghaluskan kedua tanganmu,

Yang dengannya kamu dapat merawat anggota tubuhmu dan melakukan banyak hal

Tahukah kamu, siapa yang mengokohkan kaki jenjangmu

Yang dengannya kamu bawa tubuhmu kemanapun kau suka

Tahukah kamu, siapa yang mengelokkan wajahmu

Yang dengannya banyak mata tertawan,

bahkan dirimu pun tidak pernah bosan memandangnya di cermin

Tahukah kamu, siapa yang melembutkan rambutmu

Yang dengannya kamu bertambah cantik

Tahukah kamu, siapa yang menciptakan dua telingamu

Yang dengannya kamu dapat mendengar

Tahukah kamu, siapa yang menganugrahkanmu dua mata yang indah,

Yang dengannya kamu dapat melihat

Tahukah kamu, siapa yang membentuk hidung bangirmu

Yang dengannya kamu dapat menghirup oksigen dengan cuma-cuma.

Tahukah kamu, siapa yang memberimu mulut yang mungil

Yang dengannya, kamu artikulasikan segala kebutuhan, keinginan, dan permintaanmu.

Tahukah kamu, siapa yang tidak tidur untuk menjagamu,

Tatkala orang-orang yang menyayangimu pun dalam PenjagaanNya

Tahukah kamu, siapa yang senantiasa siap menerima curhatmu,

Tatkala hatimu disakiti, dikhianati.

Tahukah kamu, siapa yang selalu setia menemanimu,

Tatkala semua manusia menjauhimu, melupakanmu

Tahukah kamu, siapa yang selalu menolongmu

Tatkala kamu dalam kesulitan

Tahukah kamu, siapa yang sabar dengan pengabaianmu

Padahal Ia selalu mencurahkan perhatianNya

Tahukah kamu ….siapa yang selalu ….

Menjagamu …..baik kau sadari atau tidak

Memberimu….. tak peduli kau berterima kasih atau tidak

Menemanimu,…..tak peduli kau abaikan atau tidak

Menolongmu…..setiap kali kau dalam kesulitan

Katakanlah!!

Dialah Allah Rabb semesta alam

Dialah Yang Maha Hidup dan Senantiasa Mengurusi makhluk-makhlukNya

Kamu termasuk diantaranya

Dialah yang meluluhkan hati manusia, memasukkan kasih sayang kepadanya,

Tatkala rasa lapar, haus, sakit masih kau artikulasikan dengan…oee..oee

Ketahuilah,

sesungguhnya Allah tidak memintamu untuk membalas semua pemberianNya

Karena kamu tidak akan pernah sanggup

Ia hanya memintamu untuk bertanggung jawab,

dengan menjaga dan merawat semua pemberianNya

Allah Maha Tahu

Lebih tahu tentang dirimu daripada dirimu sendiri

Apakah kamu mengimani hal ini??? Jawablah!!

Apa-apa yang Ia perintahkan adalah untuk kebaikanmu juga

Apa-apa yang Ia larang adalah untuk keselamatanmu juga

Dia menjagamu dengan syariatNya

Melanggarnya adalah pelepasanmu terhadap perhatianNya

Di Bulan yang datang setahun sekali ini,

Kejarlah Kasih SayangNya yang dulu kau tinggalkan dengan congkak

Reguklah manisnya rindu untuk bersua denganNya

Dengan menyiapkan segala keperluannya

Oleh karena itu,

Tutuplah rambutmu agar tidak menjadi sumbu yang siap membakarmu

Perlonggarlah kaus dan bajumu, agar paru-paru PemberianNya bisa bekerja leluasa

Perlebarlah jeans dan rokmu, sehingga tidak menarik perhatian laki-laki

Hijab(tutup)i dirimu agar wanita-wanita yang bersuami tidak dibakar cemburu

Juga supaya adik-adik kecil mengetahui mana yang pantas dan mana yang tidak

Juga agar dirimu tidak menjadi barang gratis untuk dizoom dalam disket memori lawan jenis

Tidak perlu semua laki-laki tahu sehingga hatinya tertawan,

Juga semua wanita tau sehingga hatinya iri,

melihat kecantikan yang menjadi tanggung jawabmu nanti…..

di hadapan Penguasamu,

Penguasa ibumu,

Penguasa Ayahmu,

Penguasa dan Pemelihara seluruh alam semesta…

Allah Rabbul ‘alamin

Tidak perlu semua laki-laki tau karena hanya satu yang akan menjadi suamimu

Tidak perlu semua wanita tau karena pada akhirnya kamu akan keriput juga

Kalau kamu bertanya, untuk apa Allah menciptakan keindahan jika bukan untuk dinikmati…?

Jawabnya,

sebagaimana diciptakannya air untuk diminum, ikan untuk ditangkap, hewan ternak untuk diambil manfaatnya, maka demikian juga keindahan. Namun Allah memuliakan Adam terhadap Iblis dengan memerintahkan Iblis bersujud kepada Adam. Allah lebih Tahu dari pada Iblis meskipun Iblis merasa bahwa pendapatnyalah yang benar (api lebih hebat daripada tanah).

Allah juga memuliakan manusia terhadap hewan dengan membuat syariat yang membedakan manusia dengan hewan. Dilarang kita untuk sujud dengan kedua siku diletakkan di lantai, karena hal ini menyerupai anjing. Cara kita turun untuk sujud pun harus berbeda dengan unta yang menurunkan kaki depannyaterlebih dahulu. Perhatikanlah hal ini.

Pikiran pejantan, dalam setiap jenisnya mereka terbagi 2 yaitu pejantan selain dirinya dan betina. Sehingga ketika libido menggebu, maka hanya betina yang menjadi perhiasan sangkar madunya (tidak peduli itu babon adalah ibu, sodara, temen, atau tetangganya) yang penting betina dan wes ewes ewes…bablas.

Sedangkan dalam fikiran seorang muslim, orang islam terbagi 2 yaitu muslim dan muslimah. Jima’ (bersetubuh) dalam islam cuma antara laki-laki dan perempuan. Orang yang berpendapat-meskipun psikolog- bahwa perbuatan kamu luth (homoseksual) adalah halal, maka orang itu KAFIR. Dan perempuan ini terbagi lagi menjadi ibunya, sodaranya, temennya, tetangganya. Kemudian yang halal untuk dijima’i hanya istri.

Inilah yang membedakan. Manusia dibebani syariat yang itu untuk kebaikan mereka baik secara individu maupun kolektif kemasyarakatan.

Menikmati sesuatu yang bukan haknya dilarang dalam syariat islam. Memandang keindahan adalah kenikmatan, toolsnya adalah mata, suara tertentu juga nikmat untuk didengar, toolsnya adalah telinga, mencium aroma juga kenikmatan toolsnya?…yaa benar…hidung.

Sekarang…kalo kamu punya pacar dan pacarmu sedang menikmati pemandangan (cewek lain) yang lebih menarik dari “milik”nya sekarang ini disebabkan pemandangan itu lebih terbuka (rambut, tangan, kaki, dada, dll). Bagaimana perasaanmu? Apa kamu justru bersaing dengan membuka apa yang cewek itu belum membukanya?

Kalo kamu nanti punya suami yang melakukan hal yang sama. Karena dia sudah terbiasa untuk itu. Bagaimana pula perasaanmu?

Kalo kamu punya adik perempuan yang sedang dipelototin para pemirsa jalanan. Bagaimana pula perasaanmu?

Pembelian tidak akan ada tanpa barang yang dijual.

Barang dagangan dan cara menjualnya, mencerminkan tipe pembeli macam apa yang bersedia memiliki barang tersebut.

Kalo kamu mau dilindungi oleh pria yang baik akhlaqnya, perhatian kepadamu, tidak memandang yang bukan haknya, maka jadikanlah dirimu muslimah yang sesuai untuk mendapatkan pria seperti itu.

Kalo kamu berfikir dan mulai menyimpulkan sesuatu, maka kesimpulanmu benar adanya. Bahwasanya dalam islam menikmati sesuatu tidak dilarang asal sesuatu itu adalah haknya. Pacarmu terhadapmu ataupun kamu terhadap pacarmu, sama-sama belum memiliki hak ini. Kalian bukan jodoh (karena terbukti belum nikah pe sekarang tho).

Kalo kamu pacaran dengan prinsip mencari yang cocok, maka bandingkan dengan pengorbanan perasaan ketika pacarmu melirik wanita lain, waktu yang selalu terisi dia, pikiran yang tidak bisa konsentrasi.

Kesimpulan lain yang menjadi tujuan ditulisnya risalah ini adalah kamu, wahai adik, teman, ataupun kakak perempuanku di UGM. Hijabilah diri kalian. Itu akan mempercantik dan menganggunkan perilaku kalian yang akan tidak ter-rem jika berpakaian ala prewoman. Dan yang lebih penting lagi adalah kalian akan selamat dari azab Allah di dunia maupun di akhirat.

Sekarang apalagi yang menyulitkan kalian untuk berjilbab.? Bukankah banyak kain yang lebar, banyak kain yang mampu menutup warna kulitmu. Emangnya ada yang ngelarang pake jilbab gini. Hidup matimu bukan ditentukan manusia, tanyakan hal ini kepada orang yang pernah selamat dari hal yang sudah tertutup kemungkinan untuk selamat. Tanyakan kepada orang-orang yang hidup hatinya, yang tau bahwa dirinya akan mati, menyadarinya, dan konsekwen dengan pengetahuannya itu.

Tidak Takut kamu kepada Allah??

Jika kau beralasan dengan cita-cita tinggi, maka jawabnya adalah kita harus akui bahwa hidup ini pililhan. Sekarang adalah hasil usaha kemarin, dan sekarang akan menghasilkan masa depan tiap-tiap pemilih. Cita-cita terbaik yang pernah ada adalah cita-cita yang kita memang diciptakan dengan membawa naluri dan kemampuan untuk mencapainya. Cita-cita terbaik adalah menjadi manusia yang tidak keluar dari fitrahnya.

Cita-cita terbaikmu…adalah menjadi istri yang disayang dan dijaga suami dengan jiwa dan raganya, cita-cita terbaikmu adalah menjadi anak yang dibanggakan orang tua, cita-cita terbaikmu adalah menjadi ibu yang dijadikan tempat mengadu anak-anaknya. Kamu bantu suami, kamu berbakti kepada orang tuamu sehingga keduanya ridha, dan kamu didik anak-anak penjagamu yang nantinya anak-anak inilah yang akan peduli kepadamu , mereka hadir untukmu ketika umur sudah menggerogoti kecantikanmu, kekuatanmu, penglihatan, dan pendengaranmu. Merekalah yang akan peduli kepadamu, bukan teman-temanmu yang juga sudah tua, suami, apalagi anak-anak orang lain. Tapi anak-anakmulah yang akan peduli padamu.

Dan semua itu butuh persiapan, jilbab salah satunya.

Karena dengan jilbab wanita muslimah, maka akan tersaring laki-laki yang berminat untuk menjagamu. Laki-laki mata keranjang hanya untuk wanita-wanita keranjang yang nge-ler dadanya, pinggulnya, tangannya, kakinya, rambutnya di jalan-jalan umum, kampus, mall, masjid, atau dimanapun yang penting keranjang itu mudah untuk dilihat.

Semuanya itu gratis tis tinggal lihat sepuasnya-nya. Kalo kamu diminati laki-laki kayak gini, maka ketahuilah bahwa umur akan membuktikan bahwa dirimu sudah tidak menarik lagi, pada saat yang sama peminatmu tentu akan melirik keranjang-keranjang itu. Mengapa? Karena dia mencintaimu dengan variabel yang tergerogoti usia, dan jelas variable itu sudah tidak kau miliki lagi. Sedangkan kamu pun tahu, keinginan tidak pernah tergerogoti umur.

Jawablah! Apakah laki-laki seperti ini yang kau harapkan untuk selalu menemanimu kelak di dunia ini.

Dengan jilbab yang memenuhi standar, kamu jaga perasaan para istri yang bersuamikan laki-laki.

Kok bisa? Tentu saja, karena semua wanita yang mengandung, atau telah melahirkan, kehilangan apa yang dulu dibanggakannya. Allah menggantikannya dengan buah hati yang menjadi pengikat dirinya dengan penjaganya. Perasaan takut ditinggalkan sementara buah hatinya sudah ada, menjadi bom waktu yang meledak tatkala dia tahu bahwa para keranjang itu berusaha memikat suaminya.

Meskipun dengan banyak alasan: ini tubuh milik saya…suka-suka saya dong mau pake baju apa; jangan munafik lah…setiap cowok kan seneng cewek seksi nan menonjol kayak gini; lha inikan udah pake jilbab..udah ketutup tuh; inikan seni..gimana sich; inikan lagi mode..dasar kampungan; dan setempat sampah alasan-alasan lainnya.

Sekali lagi, pertimbangkan perasaan para wanita yang sudah bersuami itu, toh pada saatnya nanti kamu pun bersuami. Jika kamu tidak menjaga dirimu, siapa lagi yang akan menjaganya.

Dan yang terpenting, dengan jilbab wanita muslimah

Rahmat Allah yang khusus mendatangimu..
Mendorongmu untuk melakukan amalan-amalan baik lainnya

Tidak seperti baju-baju skala ekonomis itu (kurang bahan dan tipis),

Yang justru mendorong pemakainya untuk memenuhi tabiat dirinya

Dan menjadi pengajak kepada kefasikan, kefajiran, dan perbuatan maksiat.

Sungguh, Muhammad bin Abdullah S.A.W. memerintahkan kita untuk melaknat para wanita terlaknat itu.

Utusan Allah itu bersabda “ Pada akhir ummatku nanti akan ada wanita-wanita yang berpakaian namun (hakekatnya) telanjang. Di atas kepala mereka seperti terdapat bongkol (punuk) unta. Laknatlah mereka karena sebenarnya mereka itu adalah kaum wanita yang terkutuk”.

Dalam hadist lain ada tambahan “Mereka tidak akan masuk surga dan juga tidak akan memperoleh bau surga, padahal bau surga itu dapat dicium dari perjalanan (jarak) sekian dan sekian”

Dia yang diutus untuk seluruh manusia dan jin juga pernah berkata “ Sesungguhnya di antara yang difahami oleh manusia dari perkataan kenabian pertama kali adalah ‘jika kamu tidak merasa malu, maka berbuatlah semaumu.’”

Maka Jika kamu masih punya malu…tutuplah auratmu itu.

Bertanggungjawablah terhadap apa yang Allah titipkan kepadamu. Mintalah pertolongan Allah agar kamu dapat menjaga dirimu dengan menjalankan syariatNya.

Saudariku

Risalah ini untukmu, bukan untuk teman laki-lakimu

Mereka tentu setuju dalam mencapai kebaikan…terutama yang berembel-embel Islam,

Tapi apakah mereka konsekwen dengan persetujuannya ketika tabiat mereka sebagai “pengamat” menjadi terhalang karena yang diamati melawan tabiatnya yang senang diamati.

Sudah dikatakan dimula, bahwa pengamatan dan ingin diamati, diperbolehkan dalam Islam, tapi jika dan hanya jika sudah dijamin tali ikatan pernikahan.

Tidak ada lihat/dilihat, pegang/dipegang, cium/dicium, apalagi seks bebas dalam Islam; yang ada adalah istri, istri, istri dan istri. Semua itu hanya diberikan kepada istri sendiri dan hanya diterima dari suami sendiri. Titik (lagi).

Risalah ini juga tidak bertujuan untuk menyakiti hati penerimanya

Karena penulis juga memiliki ibu, bibi, nenek, buyut (masih hidup), yang semuanya perempuan.

Penulisnya dekat dengan mereka.

Maka menyakitimu adalah menyakiti mereka.

Oleh karena itu, saya mohon maaf jika ada kalimat, kata, atau diksi yang menyinggung perasaan Anda.

Kalo hatimu bersedia, tinggal kau datangi toko dan pilih jilbab syar’i

Tidak ada kata terlambat karena perjalanan baru saja dimulai

Yang ada adalah penumpukan dosa setiap hembusan nafasmu,

Manakala auratmu belum dilindungi jilbab wanita muslimah

Apapun profesimu, jilbab wanita muslimah bukan penghalang aktivitasmu

Jika ada profesi yang terhalang dengan upayamu menjauh dari neraka

Maka profesi itu sebenarnya bukan untukmu,

Tapi untuk wanita-wanita kafir yang mereka kekal di neraka

Atau muslimah yang tidak tahu makna dan konsekwensi 2 syahadat

Jangan mengaku mahasiswi UGM jika administrasinya tidak kau penuhi

Akhir risalah

Sekali lagi maaf

Jika tulisan ini membuka apa yang berusaha ditutupi

Mengingatkan apa yang sebenarnya ingin dilupa-lupakan

Memotong angan-angan cita-cita yang didasari kedasaran (kedangkalan) ’ilmu

Tapi coba katakan, harus dengan cara apa kabar dari rasulullah itu kusampaikan

Kabar itu sudah pasti benar, sementara kita sibuk merias diri.

Semoga Allah meluruskan niat saya dalam menulis risalah ini,

Semoga Allah memudahkan hisab kita (terutama saya) di yaumul hisab nanti

Dan

Semoga kita diberi kemudahan untuk melaksanakan apa-apa yang dicintaiNya yang termaktub dalam syari’atNya.

Wallahua’lamu bishshowab.

Penulis: hauza_ahmad@yahoo.com

Jogjakarta, 24 Oktober 2004

Anyep-anyep jam 00:55 WIB

Maroji’ (sori ya semua referensi bentuk tarjim):

Al Qur’an

Imam An Nawawi, “Arba’in An Nawawiyah”

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah,” Mendulang Faidah dari Lautan Ilmu”

Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah,” Taman Orang-Orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu”

Muhammad Nashiruddin Al Albani,” Jilbab Wanita Muslimah”

sumber http://mashaw.wordpress.com/wanita-idaman-pria/
Next Page »

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.