Akhwat Sejati

August 21, 2009 at 5:11 am | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari keikhlasan ia memberikan kebaikan itu

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara

Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani tetapi dilihat dari sejauhmana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur

Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul tetapi dilihat dari sejauhmana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Advertisements

The Power Of Positif Thinking (Husnuzhon)

July 3, 2009 at 12:17 pm | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Assalamualaikum wr.wb…
saya mau coba Shering dengan anda lewat tulisan ini, sy sadar tulisan ini masih jauh dr sempurna, kalau ada temen2 di WH yg lebih mengetahui ILMU nya silahkan diberi masukan & kritikan, tks. selamat membaca.

Dari berbagai sumber buku yang saya baca tentang “Postif Thinking”
saya coba beri kesimpulan tentang Positif Tinking.

Sesungguhnya semua mahluk, yg ada dimuka bumi tunduk pada Allah….
Tahukah anda? bahwa bentuk otak manusia, menyerupai Orang yg sedang bersujud? Artinya, otak kita saja senantiasa bersujud pada Allah? kenapa kita tidak?

THINKING (FIKIRAN)

* 2 juta informasi masuk ke otak kita perdetiknya
* akal kita mampu berfikir 60.000 fikiran setiap harinya, baik yg positif maupun negatif
* Setiap doa yg kita ucapkan bersumber dari fikiran, berarti setiap fikiran merupakan DOA
* setiap DOA pasti dikabulkan oleh Allah, baik yang positif maupun yang negatif (Ud’uni astajib lakum)
* Hidup kita yang sekarang kita jalani, ternyata hasil proyeksi dari akal fikran kita sendiri

Jadi berhati2lah mengolah fikiran kita, hiasilah selalu fikiran kita dgn positif thinking, karena setiap fikiran kita merupakan DOA, yg pasti akan dikabulkan oleh Allah, maka senantiasalah berfikir positif agar POSITIVE hidup kita, yg merupakan hasil proyeksi dari akal kita.

JAUHKAN SU’UDZON (BURUK SANGKA)
Baik pada orang lain, pada diri sendiri, maupun pada Allah, sehingga kehidupan nyata kitapun jauh dari KEBURUKAN.

CARA MENGHILANGKAN SU’UDZON :
* Paksakan diri untuk berhusnudzon (berbaik sangka) sampai 72x
jadi misalnya : saat kita mengundang orang lain disuatu pesta & org tsb tidak datang, paksakan diri kita untuk mencari kesimpulan brupa kata “MUNGKIN” dgn baik, misalnya : mungkin dia ada halangan, mungkin dia ada acara lain, mungkin dia lupa & mungkin2 lainnya sampai 72 x, baru ke 73X nya kita boleh berfikir negatif…. kenapa? karena saat kita mencari kata “MUNGKIN” ke lebih 30x otak kita sudah terlanjur lelah sehingga tdk ada kesempatan utk berfikir negatif lagi.

*Sebisa mungkin kurangi asupan persepsi negatif (baik yg bersumber dari TV, majalah, radio, apalagi yg mengandung gosip, gibah & lainnya)
karena dgn semakin dikit info buruk yg masuk ke otak kita, makin sedikit kita berfikir negatif

*Hiasi fikiran kita dengan Nama2 baik Allah/Asmaul husnah, sehingga hasil proyeksi hidup kitapun InsyaAllah menjadi baik.

*Nikmati sholatmu & Dzikirmu, ajaklah hati, jiwa & fikiranmu saat melakukan sholat & zikir, karena doa kita yg berada dlm fikiran kitapun akan diaminkan para malaikat.

*Ubah cara bertanya pada diri, jgn katakan Why (kenapa) tapi ubahlah menjadi How (bagaimana). karena kata2 Why, mengandung makna penyesalan, putus asa & cenderung menyalahkan orang lain. sedangkan kata How, mengandung pemikiran yg menantang, kreatif (thinking out of the box) misalnya :

kita sering bertanya kenapa saya miskin? kenapa saya yg dikasih musibah ini? kenapa bukan saya yg berhasil?
tapi cobalah kita ubah pertanyaan tsb menjadi…. Bagaimana caranya supaya saya tdk miskin? bagaimana agar saya tdk dikasih cobaaan berat ini? bagaimana saya bisa berhasil? apa yg harus saya lakukan?

Jadi ubahlah cara bertanya pada diri kita sendiri.

*Melatih Kata- Kata.
sering kali otak kita, salah menerjemahkan kata2 kita, sering kali otak men “delet” sebagian kata2 yg kita ucapkan.
misalnya : kita disuruh “Jangan tengok kebelakang” apa yg ada dipikiran kita? memang kita tdk nengok kebelakang, namun tak dipungkiri, otak kita berreaksi sebaliknya & kembali bertanya? ada apa dibelakang? kenapa saya tdk boleh tengok kebelakang, sehingga “hasrat keinginan kita justru menjadi ingin menengok kebelakang. karena otak berusaha mendelet kata2 “jangan”, sehingga menjadi “tengok kebelakang” tdk jarang sebagain besar manusia, malah memilih “menengok kebelakang” dari pada “Jangan tengok kebelakang”.

Tahukan anda apa kesalahan terbesar Nabi Adam AS, hingga diturunkan kebumi? Jawabannya ternyata kesalahan “Fikiran” Nabi Adam AS diperintah Allah untuk “Tidak memakan buah Quldi & Jangan dekati buah Quldi” dari larangan Allah tersebut, Malah terbesit didalam fikiran Nabi Adam AS sebuah pertanyaan “Mengapa Allah melarangku mendekati atau memakan buah Quldi?” lalu apa yg dilakukan Nabi Adam AS? beliau justru mencari “buah yg dimaksud oleh Allah” yg dilarangnya tersebut, memang maksud Nabi Adam AS, untuk mengetahui buah yg mana yg harus dijauhi? tapi apa kenyataannya? Nabi Adam AS, malah terpelosok kelubang larangan tersebut. Ini artinya betapa bahayanya “Fikiran” tersebut, jika kita tak bisa mengelolahnya.

KEKUATAN KHUSNUDZON
* bayangkan jika 60.000 fikiran kita perharinya seluruhnya Positive Thinking? Subhanwllah yg terjadi adalah “The Power Of Positif Thinking” yg dapat merubah hidup kita menjadi Wujud kehidupan nyata yg Positif (Bahagia, Senang, tenang, damai, tentram)

*Magnet Low of Attaction (LOA) – “Fokus Kita” dapat menentukan arah hidup kita. Jadi usahakan agar kita selalu Fokus kepada kebaikan2 saja & usahakanlah untuk membayangkan dalam benak kita tentang hal2 yg baik2 saja & yakini sebagai kenyataan yang akan terwujud, karena tak ada yg tak mungkin bagi Allah (Kun fayakun)

*”Harapan Anda” adalah daya pikat yg kuat, semakin besar harapan kita, semakin mudah tuk terwujud menjadi nyata, hanya tinggal kita”nya saja yg pandai2 memilihnya. Yg pasti Harapan Positif menarik Wujud Positif & Harapan Negatif akan menarik Wujud Negatif.

Dibawah ini adalah Rujukan Ilahi tentang “Fikiran”

1. inni Inda Dzhonni ‘abdi bi… sesungguhnya aku menuruti PERSANGKAAN umatku. (hadist Qudsi HR Bukhori Muslim)

2. …dan jika kamu menuruti kebanyakan orang2 yg dimuka bumi ini, niscahya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti “PERSANGKAAN” belaka & mereka tdk lain hanyalah berdusta terhadap Allah (Qs 6 :116)

3. Sesungguhnya sebagian dari PRASANGKA itu dosa (QS 49 : 12)

Dari kesimpulan yg saya tulis ini, maka marilah kita senantiasa untuk berfikir Postif. sehingga terwujud kehidupan nyata yg positif (Baik) pula yg merupakan hasil dari proyeksi alam fikiran kita sendiri.

Wawllahu a’lam bissawab.
Wassalamualaikum wr.wb

Sumber : http://www.wisatahati.com

Cinta tanpa Syarat

June 26, 2009 at 12:47 pm | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Malam tahun baru 1999 adalah awal malapetaka bagi saya. Saya mengalami kecelakaan hebat setelah motor yang saya kendarai bertabrakan dengan sebuah mobil taft. Sempat sadar setelah terjatuh, saya melihat darah berceceran di sekitar lokasi. Gagal mencoba berdiri, saya baru menyadari bahwa kaki kanan saya terluka cukup parah. Urat besar di bawah lutut saya putus.

Setelah dioperasi di Rumah Sakit Mekar Sari, Bekasi Timur, saya diharuskan istirahat total. Sejak saat itu saya harus menghadapi kenyataan pahit, kaki kanan saya pincang. Ya, saya cacat.

Hari-hari pada proses pemulihan kondisi terasa amat berat. Betapa tersiksanya ketika saya harus merangkak menuju kamar mandi untuk sekadar buang hajat. Dan sejak saat itu saya sadar bahwa karunia Allah atas kesehatan dan kesempurnaan pada tubuh kita begitu besar.

Dan orang yang rela menemani hari-hari berat itu dan merawat saya adalah ibu. Beliau membasuh darah yang kadang masih keluar dari kaki saya dan membasuh seluruh tubuh saya sebagai ganti mandi. Berbulan-bulan sakit itu hingga saya diterima kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Surabaya. Kasih sayang beliau tak berkurang sedikit pun meski saya cacat.
***

Alkisah, ada seorang pemuda yang dikirim ke medan perang. Dia prajurit muda. Setelah sekian lama bertempur, dia akhirnya diperbolehkan pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, pemuda itu menelepon kedua orang tuanya terlebih dahulu.

”Ibu, Ayah, aku sedang menuju pulang. Tapi, sebelum sampai, aku ingin menanyakan satu hal. Aku punya seorang teman yang ingin kubawa pulang bersamaku. Bolehkah?”

”Tentu. Kami sangat senang bertemu dengan temanmu itu,” jawab kedua orang tuanya.

“Tapi, ada satu hal yang harus Ibu dan Ayah ketahui. Temanku ini sedang terluka akibat perang. Dia kehilangan satu kaki dan satu tangannya. Dia tak tahu ke mana harus pulang. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” ujar sang pemuda.

“Kasihan sekali. Mungkin kita bisa mencarikan tempat untuk temanmu tersebut,” tutur kedua orang tua pemuda itu.

“Tidak. Aku ingin dia tinggal bersama kita,” tegas si pemuda.

“Anakku, kamu tak tahu apa yang sedang kamu minta. Seorang yang cacat akan menjadi beban bagi kita. Kita punya kehidupan sendiri. Dan sesuatu seperti ini tidak bisa mencampuri kehidupan kita,” jawab ayah pemuda itu.

“Menurut Ayah, sebaiknya kamu pulang dan lupakan saja temanmu itu. Dia pasti menemukan cara sendiri untuk hidup,” lanjut sang ayah.

Prajurit muda itu terdiam sejenak. Lalu, dia menutup telepon.

Beberapa hari kemudian, ayah dan ibu prajurit muda tersebut mendapatkan kabar dari polisi bahwa ada seorang pemuda yang bunuh diri dengan cara melompat dari puncak gedung. Berdasar identitasnya, diketahui bahwa pemuda itu adalah anak lelaki mereka.

Dengan perasaan duka dan sedih, kedua orang tua itu datang ke tempat kejadian perkara untuk memastikan kabar itu. Ketika berada di dekat jenazah, kedua orang tua tersebut yakin bahwa jasad lelaki itu adalah putra mereka.

Namun, yang membuat mereka sangat terkejut adalah jenazah itu hanya memiliki satu tangan dan satu kaki.

***

Sering kali, tanpa kita sadari, kita kerap terpesona oleh penampilan luar seseorang. Ada seorang guru yang hanya suka terhadap murid yang pintar. Bahkan, ada seseorang yang hanya menghormati orang yang cantik, tampan, kaya, dan segala sesuatu yang bagus-bagus saja.

Berapa banyak kata cinta yang terlontar dan kita dengar dalam sehari? Kata cinta dapat dengan mudah kita jumpai di majalah, surat kabar, televisi, radio, atau ponsel. Kata cinta juga gampang dijumpai di rumah, tempat umum, rumah sakit, atau diari sekalipun.

Mudah saja seorang pria mengucapkan kata cinta kepada gadis yang cantik rupawan. Mudah saja seorang ibu mengucapkan cinta kepada anak yang lucu menggemaskan. Mudah saja seorang guru bilang cinta kepada murid yang rajin dan pintar.
Mudah saja seorang bos menuturkan cinta kepada anak buah yang produktif dan kinerjanya baik.

Namun, mudahkah kita mengucapkan cinta kepada seseorang yang tak secantik, serupawan, selucu, sepintar, dan serajin yang kita bayangkan? Apakah seorang pria akan tetap mengutarakan cinta apabila si gadis tak lagi cantik dan memesona? Apakah seorang guru tetap mengasihi jika muridnya malas dan membangkang?

Tanpa disadari, kita acapkali hanya mau mencintai dan hidup bersama orang yang sempurna di mata kita. Namun, kita tak senang hidup dengan orang yang membuat kita tidak nyaman.

Seperti kisah prajurit muda tadi, kedua orang tua itu mencintai dengan tidak tulus, harus dengan syarat. Mereka gagal dalam ujian keikhlasan.

Dan untuk seorang ibu yang rela merawat dan membesarkan hati saya ketika saya merasa down, hanyalah doa agar Allah senantiasa menjaga dan memudahkan segala urusannya ketika kami tidak lagi bersama saat ini.

sumber : http://www.samuderaislam.blogspot.com

Ketabahan Seorang Wanita

June 19, 2009 at 12:49 pm | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Mungkin sudah ditakdirkan bahwa sebagian besar wanita mempunyai resistensi yang tinggi terhadap penderitaan hidup. Seperti kisah nyata seorang wanita berikut ini, yang berusaha bertahan dan step by step memperbaiki dirinya untuk kembali ke jalan Allah agar mendapat keselamatan dunia akhirat.

Hidup sudah demikian berat bagi wanita ini. Di usia sembilan belas tahun dia terpaksa menikah dengan pacar SMA nya karena hubungan bebas mereka telah menyebabkan si wanita hamil di luar nikah. Pernikahan yang sudah salah dari mula itu akhirnya dikaruniai seorang anak laki-laki. Anak tersebut tumbuh tanpa mendapatkan banyak perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibunya karena masing-masing sibuk dengan diri mereka sendiri. Entah karena si ayah masih senang dengan dunia gemerlap atau karena si ibu masih terlalu muda dan gamang menghadapi semua masalah rumah tangga sendiri tanpa ada yang membimbingnya.

Pernikahan yang yang rapuh itu semakin lama semakin jauh dari apa yang diharapkan si wanita. Apa yang diimpikannya semasa SMA untuk membina keluarga kecil dengan pacar yang dicintainya, pupus sudah. Sang suami semakin sering pulang larut malam. Si wanita memendam semua kekesalan dan kemarahan dalam hatinya hingga suatu saat dia mendapati perselingkuhan suaminya dengan wanita lain. Dia kecewa dan hancur serta merasa telah sampai pada suatu titik dimana dia tidak mampu lagi untuk hidup bersama suaminya, dia menggugat cerai.

Setelah proses perceraian yang rumit akhirnya dia hidup sendiri lagi sebagai janda muda dengan seorang anak laki-laki yang berumur 5 tahun. Dia bertekad melanjutkan pendidikannya yang terputus dan berusaha untuk mandiri agar tidak menjadi beban orang lain. Ternyata kesendiriannya itu tidak berlangsung lama. Seorang pria bujangan teman kuliahnya menunjukkan perhatian kepadanya. Awalnya si wanita ragu, tapi setelah pria itu berbicara serius untuk melamar si wanita dan menerimanya apa adanya, akhirnya dia luluh juga.

Masalah kembali muncul karena laki-laki itu berbeda keyakinan dan sang ayah sangat menentang rencana pernikahan mereka. Apalagi laki-laki itu masih berstatus mahasiswa dan belum bekerja. Tapi kemudian dia menunjukkan kesungguhannya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat di hadapan seorang ustadz. Dengan hati yang berat akhirnya orangtua si wanita merestui juga pernikahan mereka untuk menghindari kemaksiatan.

Awal pernikahan mereka adalah masa-masa yang indah. Si wanita berusaha membantu suaminya sebagai seorang muallaf untuk belajar melaksanakan ibadah-ibadah wajib dan hukum-hukum Islam. Dia memohon pada Allah Yang Maha Pemberi Ampun untuk mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalunya dan menerima taubatnya. Dia berikrar akan menjadikan rumah tangganya bersama suami barunya ini menjadi rumah tangga yang sakinah mawaddah warrahmah. Dia mulai menata keluarga barunya dengan melandaskan semuanya pada syariat-syariat agama.

Sang suami ternyata adalah seorang yang perhatian dan penyayang, apalagi dia sangat sayang pada anak si wanita dari suami terdahulu. Pada tahun kedua perkawinan mereka dikarunia seorang anak perempuan yang cantik. Si wanita merasa hidupnya sudah nyaris sempurna dengan suami yang baik dan sepasang anak yang menyenangkan hati. Apalagi suaminya menunjukkan kesungguhan dalam mendalami agama. Dia serasa mendapatkan syurga dunia.

Namun kebahagiaan si wanita hanya berlangsung sesaat. Memasuki tahun ketiga perkawinan mereka, dia mendapati bahwa suaminya tidak kunjung berusaha untuk mencari nafkah. Beruntung orangtua si wanita adalah orang yang berada, sehingga rumah tangga mereka di support oleh orangtuanya. Semakin lama sang suami semakin tenggelam dalam dunia maya yang sangat digemarinya. Dia jarang keluar rumah dan menghabiskan hari-harinya di depan komputer.

Suatu hari si wanita terkejut dengan jawaban suaminya ketika dia mengemukakan kegusarannya mengenai sikap suaminya yang tidak mau berusaha mencari nafkah. “Orangtuamu kan kaya, lagian hartanya nggak akan habis untuk menghidupi kita berempat”, jawab sang suami. Masya Allah, bagaikan petir di siang bolong, dia tidak mempercayai apa yang di dengarnya. Dia menangis dan mengadu pada Allah agar suaminya dibukakan hatinya. Wanita itu takut benang rumah tangga yang sedang susah payah dirajutnya akan kembali putus di tengah jalan.

Rumah tangga nya mampu bertahan selama tujuh tahun. Tapi untuk mampu meraih tujuh tahun itu si wanita harus berjalan terseok-seok, menutupi sifat pemalas sang suami, mencari nafkah sendiri untuk biaya hidup mereka, karena dia malu terus-terusan di support orangtua. Puncak dari penderitaan wanita itu adalah ketika mereka bertengkar dan sang suami mengatakan hal yang sangat memilukan hatinya.

Sang suami berkata, “Saya kan sudah berkorban dengan mengawini janda dengan satu anak, jadi wajar dong kalau orangtua kamu membiayai hidup kita” jawab laki-laki itu dengan enteng. “Tapi dulu kan kamu yang meminta saya untuk menerima lamaran kamu, bukan saya yang memohon untuk dinikahi”, tangis wanita itu. Wanita itu tidak mengerti kemana perginya semua kasih sayang yang pernah ditunjukkan suaminya dan kemana menguapnya semua pelajaran agama yang mereka pelajari bersama-sama. Apakah selama ini dia menikahi seorang pemain sinetron yang sangat pandai berakting?

Setelah sholat istikharah dan berdoa memohon petunjuk dari Sang Khalik, akhirnya wanita itu meminta cerai dari suaminya. Hal yang tak terduga, sang suami dengan enteng mengabulkan permintaannya. Dengan rasa malu si wanita kembali ke pangkuan orangtuanya, membawa dua orang anak yang masih membutuhkan perhatian seorang ayah. Alhamdulillah orangtua si wanita menerima mereka dengan ikhlas.

Perceraian kedua ini membawa si wanita semakin taat menjalankan ibadah dan selalu mengikuti majelis-majelis keagamaan. Dengan mendekatkan diri pada Allah SWT dia merasakan ketenangan jiwa dan lebih ikhlas dalam menerima cobaan hidup. Dia yakin bahwa Allah pasti akan memberi imbalan bagi orang yang sabar.

Ternyata Allah SWT tidak membiarkan wanita itu berlama-lama hidup sendiri. Pada salah satu majelis keagamaan, seorang teman memperkenalkannya pada seorang pria yang berprofesi sebagai Motivation Trainer. Ternyata temannya itu menceritakan nasib si wanita kepada laki-laki tersebut sambil meminta agar laki-laki itu mau memberi nasehat serta motivasi pada si wanita. Akhirnya Allah menentukan lain, sang pria meminta secara resmi agar si wanita mau menjadi isterinya. Walaupun sudah melalui bermacam-macam cobaan hidup, tapi permintaan laki-laki itu adalah hal sangat berat untuk dijawab.

Lama dia memohon petunjuk pada Allah SWT dan meminta nasehat pada kedua orangtuanya, agar jawabannya kali ini benar-benar jawaban yang tepat serta diridhoi oleh Allah dan juga kedua orangtuanya. Ayahnya berkata, “Nak, apa yang sudah engkau lalui adalah pelajaran hidup yang tidak akan kau dapatkan di sekolah manapun juga. Ayah bersyukur pada Allah bahwa penderitaan yang kau lalui membawamu kembali ke Allah.

Berdoalah padaNya untuk mohon petunjuk jalan apa yang harus kau ambil, kami akan mendukungmu apa pun keputusan yang kau ambil”. Itulah pertama kali dalam hidupnya kedua orangtuanya meridhoi langkah apa yang akan diambilnya dalam menentukan pilihan hidup. Ridho orangtua adalah ridho Allah, kini dia sangat percaya akan kata-kata tersebut.

Dengan hati yang plong akhirnya dia menerima lamaran laki-laki itu. Mereka menikah secara siri, walaupun isteri pertama laki-laki itu sudah memberi restunya. Menurut suaminya ada hal-hal yang belum memungkin bagi mereka untuk mengumumkan pernikahan itu. Pada awalnya si wanita agak terkejut dengan kehidupan rumah tangga barunya itu. Dia belum terbiasa dengan kunjungan sang suami yang hanya sekali seminggu dan itupun hanya untuk beberapa jam saja, selebihnya hubungan mereka lebih banyak melalui telefon.

Suami barunya ini adalah seoang yang taat beragama dan benar-benar pemimpin yang bertanggung jawab terhadap rumah tangga mereka. Setiap ada masalah dia selalu memberikan pertimbangan yang bijaksana dan berpikir positif sehingga semuanya bisa diselesaikan dengan baik.

Nobody’s perfect, kesempurnaan hanya milik Allah, walaupun suaminya sudah memenuhi kriteria suami idaman, tapi ada satu hal yang masih mengganjal di hati. Dia tidak mengerti mengapa suaminya masih belum mau mengakui pernikahan mereka dan mengapa sang suami mengunjunginya hanya beberapa jam dalam seminggu, walaupun isteri pertama sudah merestui. Si wanita tidak berani bertanya kepada suaminya karena dia pikir suaminya itu sudah begitu baik padanya dan sangat tidak pantas kalau dia terlalu banyak menuntut.

Tapi setelah lima tahun menjalani pernikahan siri dia memberanikan diri untuk bertanya pada suaminya mengenai hal tersebut. Pertanyaan tersebut membuat suaminya terdiam dan terlihat sangat sedih. Akhirnya dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi mempermasalahkannya. Terkadang ada rasa sedih merayapi hatinya karena dia merasa menjadi isteri simpanan yang tidak diakui, walaupun mereka menikah sah secara agama. Suaminya tidak pernah membawanya bepergian layaknya suami isteri. Hari-harinya dilalui dalam kesendirian, mengurus anak-anak.

Si wanita akhirnya mengembalikan semuanya pada Allah agar suatu hari nanti memberinya kesempatan untuk menjalani kehidupan layaknya sebuah keluarga yang normal. Setelah dua pernikahannya terdahulu, dia tidak ingin gagal untuk kali ini karena dia yakin pernikahannya kali ini didasarkan atas cinta pada Allah dan restu dari kedua orangtuanya. Dia yakin apa yang telah terjadi dan sedang terjadi pada dirinya adalah atas izin Allah oleh karena itu akan dijalaninya dengan ikhlas dan lapang dada.

Semoga kisah ini bisa memberi semangat dan motivasi bagi wanita-wanita yang sedang menghadapi masalah. Jangan berputus asa karena Allah SWT telah berjanji bahwa dibalik kesulitan akan selalu ada kemudahan.

Sumber : eramuslim.com

Menghadapi Musibah Demi Musibah

October 19, 2008 at 5:47 am | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Musibah atau bencana sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Satu musibah mengiringi musibah lainnya. Ia ibarat sapuan-sapuan kuas warna-warni yang mengisi lukisan kehidupan kita. Musibah atau bencana tersebut bisa merupakan ujian/cobaan, peringatan ataupun hukuman kepada kita sebagaimana yang pernah terjadi pada kehidupan manusia sebelumnya. Kalau kita melihat ke kanan, ke kiri, atau bahkan kepada diri kita, warna-warni musibah itu terlihat nyata, berpadu dalam rangkaian episode kehidupan.

Jika demikian, apa yang musti diperbuat ketika musibah menimpa? Akankah kita patang arang, putus harapan, dan kehilangan gairah hidup karena musibah yang datang silih berganti itu? Akankah dunia serasa kiamat? Akankah kita merasa bahwa perut bumi lebih baik daripada permukannya? Bagaimanapun, musibah memang menggoreskan duka. Namun, banyak alasan yang seharusnya membuat manusia untuk tidak larut dalam duka, dengan meratapi nasib atau memaki takdir yang menimpa.

Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini adalah milik Allah Ta’ala, Dzat yang memberikan kita kehidupan, telah menetapkan hidup kita di dunia tidaklah abadi dan sebagai ujian semata. Allah Ta’ala menyatakan dalam firman-Nya, artinya: “Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk mengujimu, siapakah di antara kamu semua yang paling baik amalnya Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS: Al-Mulk: 2)

Tidak ada satu tempatpun di alam ini yang terlepas dari Kekuasaan dan Ketetapan Allah Ta’ala, sehingga Allah akan menimpakan berbagai cobaan kepada kita dalam bentuk yang bermacam-macam. Sebagaimana yang dinyatakan dalam firman Allah Ta’ala, artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan……….” (QS: Al-Baqoroh: 155)

Oleh sebab itu marilah kita menyadari dua hal yaitu pertama bahwa segala bentuk musibah atau bencana yang terjadi adalah merupakan ketetapan Allah Ta’ala, yang bertujuan untuk menguji ataupun memperingatkan/menghukum kita atas amalan-amalan yang telah kita lakukan. Oleh sebab itu setiap individu kita haruslah melakukan intropeksi diri dan bersabar dalam menghadapinya. Allah berfirman, artinya: “…………..,Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ” Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun (Sesungguhnya, kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali)”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Robb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS: Al-Baqoroh: 155-157)

Dalam Al-Musnad, diriwayatkan dari beliau Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam yang bersabda: “Tidak seorang pun yang tertimpa musibah, lantas mengucapkan “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Allohumma’ jurni fi mushibati wa akhlif li khoiron minha (Sesungguhnya, kami milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya kami kembali. Ya Allah berilah aku pahala dalam musibahku dan berilah pula aku pengganti yang lebih baik darinya)”, kecuali Allah pasti memberikan pahala kepadanya atas musibahnya itu dan memberinya pula pengganti yang lebih baik daripadanya ”

Yang kedua yaitu menyadari bahwa kehidupan ini adalah milik Allah Ta’ala, dan pasti kembali kepada Allah Ta’ala. Kalimat tersebut mengandung prinsip-prinsip agung, jika seorang hamba benar-benar memahami prinsip-prinsip itu, ia akan terhibur dari musibah yang menimpanya.

Prinsip pertama adalah, yakin bahwa seorang hamba berserta keluarga dan hartanya benar-benar merupakan milik Allah Ta’ala. Milik Allah itu telah diserahkan kepada hambanya sebagai pinjaman, maka jika Allah mengambil kembali pinjaman itu darinya, kedudukannya seperti pemberi pinjaman yang mengambil barang yang dipinjam. Keluarga dan hartanya itu selalu berada diantara dua ketiadaan, yaitu ketiadaan sebelumnya dan ketiadaan sesudahnya. Kepemilikan hamba terhadapnya hanyalah kesenangan yang dipinjamkan dalam jangka waktu sementara. Hamba bukanlah yang mengadakannya dari ketiadaan, sehingga tidak bisa menjadi pemiliknya secara hakiki. Hamba juga tidak bisa menjaganya dari berbagai bencana setelah ia ada. Juga tidak bisa mengekalkan keberadaannya. Jadi seorang hamba sama sekali tidak memiliki pengaruh terhadapnya dan tidak memiliki secara hakiki. Bahkan, hanya dapat mempergunakannya dalam batas wewenang tertentu yang terdapat perintah dan larangan dari Allah Ta’ala, bukan sesuka hatinya. Karena itu, seorang hamba tidak berhak melakukan tindakan terhadap pinjaman tersebut kecuali yang sesuai dengan perintah Allah Ta’ala Pemiliknya yang hakiki.

Prinsip kedua adalah yakin bahwa tempat kembali seorang hamba adalah Allah Ta’ala, tuannya yang sejati. Ia pasti akan meninggalkan dunia di belakangnya dan menghadap kepada Robbnya seorang diri, sebagaimana ketika pertama kali ia diciptakan-Nya, tanpa ditemani oleh keluarga, teman, atau kerabat, melainkan hanya ditemani oleh tingkat ketauhidan, amal kebajikan dan amal kejahatan. Bila demikian asal muasal seorang hamba, apa yang ditinggalkannya dan akhir hidupnya, bagaimana ia bisa bergembira dengan sesuatu yang ada atau berduka atas sesuatu yang tiada?

Prinsip ketiga adalah yakin bahwa apa pun yang telah ditakdirkan menimpa dirinya, tidak mungkin untuk dihindari, sebaliknya apapun yang telah ditakdirkan terluput darinya, tidak mungkin menimpanya. Allah berfirman: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri” (QS: Al-Hadid: 22-23).

Jadi seorang hamba haruslah bersabar dan menyerahkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tetap berusaha dan semangat sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Wallahu ‘Alam.

(Dikutip dan diolah dengan penyesuaian dari: ‘Ilaaju Harril Mushiyb)

Tip Menghadapi Musibah

October 19, 2008 at 5:44 am | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Musibah menguji kekuatan iman seseorang.Orang kuat imannya pasti menang menghadapi ujian yang tersedia ganjaran.Mereka bersabar dan rela dengan ketentuan ALLAH, menghadapinya dengan perasaan dan pikiran yang positif.

Umat Islam perlu senantiasa berpikiran baik kepada ALLAH.Apa yang terjadi pasti tersimpan hikmah yang besar.Anggaplah ia kebaikan dan mengucap syukur .Muhasabah diri dan berfikir sebab musabab tejadinya musibah.

Rosulullah SAW senantiasa memberi pengharapan yang tinggi supaya umatnya tidak berduka cita apabila menghadapi musibah.Setiap musibah yang menimpa menuntut kesabaran tinggi untuk menghadapinya.

Rosulullah SAW bersabda yang artinya:”Siapa saja di kalangan umat Islam yang tertimpa sakit atau terkena penyakit, maka tidak ada selain ALLAH yang akan menghapuskan dosa-dosa seperti pohon yang menggugurkan daun-daunnya.”(HADIST RIWAYAT MUSLIM).

Musibah penyakit banyak hikmahnya.Apabila diuji dengan penyakit dan penderitaan,manusia sadar kekuatan dirinya tidak mampu bertahan selamanya. Manusia mudah lupa jika senantiasa sehat. Bahkan Fir’aun mengaku dirinya Tuhan karena disebabkan dia tidak pernah di timpa penyakit.

Ujian menderita karena penyakit memberi kesan psikologi yang mendalam kepada manusia, berbanding dengan ujian lain. Apabila menderita penyakit berbahaya atau rasa sakit teramat sangat , maka terlintas mengenai kematian.

Apabila ALLAH menurunkan ujian , secara langsung mengingatkan kepada kekuasaan-NYA. Dia berkuasa menentukan segala yang dinginkan terhadap hamba-NYA.Segala nikmat yang dikurniakan ALLAH kepada setiap orang bisa di tarik kapan saja dengan berbagai cara.

Musibah adalah peringatan bagi manusia,muhasabah diri karena ujian mendorong perasaan insaf dan memperbanyakkan istighfar supaya tidak terus dalam dalam kelalaian duniawi.

Memohon keampunan ALLAH bisa mengahalang perasaan angkuh dan sombong.Selama ini hanya melihat nasib orang lain,dan kini tiba masanya terjadi kepada diri sendiri.

Bertaubat adalah tindakan spontan biasanya di lakukan oleh mereka yang di timpa musibah.Ia bertepatan dengan sebab ALLAH menurunkan musibah ke atas diri seseorang sebagai tanda peringatan.

Orang beriman merasa bersyukur di kenakan musibah sebagai ujian atau sebagai penghapus dosa yang dilakukan.Antara dosa yang dilakukan manusia, ada yang ALLAH hapuskan melalui pembalasan dalam bentuk musibah.

Oleh karena itu, orang beriman yang memahami konsep balasan dan ujian diturunkan melalui musibah merasakan dirinya beruntung. Sakit didunia ini menjadi penyelamat daripada panas api neraka pada hari kiamat kelak
.
Ketika Rosulullah SAW mengunjungi sahabat yang sedang sakit,Baginda bersabda ,yang artinya:”Bergebiralah , karena ALLAH berfirman:”Inilah neraka-KU ,Aku menganjurkan menimpa hamba-KU yang mukmin didunia , supaya dia jauh dari neraka pada hari kiamat.”(Hadist riwayat Ahmad ,Ibnu Majah dan Hakim).

Pengampunan dosa melalui musibah ketika meinsyafi musibah itu, yakni menerima musibah dengan rela , sabar dan memohon keampunan kepada ALLAH.ALLAH senang mendengar pengaharapan dan do’ a hambanya.

Firman ALLAH yang berarti:”Dan sesungguhnya Kami pernah menimpakan azab ke atas mereka,namun mereka tidak tunduk kepada TUHAN dan mereka juga tidak berdo’a kepada ALLAH dengan merendah diri.”(Surah AL MUK MINUN , ayat 76).

Berdo’a adalah ibadah dan jika apa yang dido’akan tidak di makbulkan didunia , balasan kebaikan akan tetap diperoleh di akhirat atas apa yang di lakukan. Mungkin juga do’a itu dimakbulkan dengan digantikan kebaikan lain
.
Mereka yang berkeluh kesah dan mempertikaikan musibah yang menimpa dirinya, maka tidak ada kebaikan yang diraih. Mereka itulah hamba yang benar-benar rugi di dunia dan di akhirat.Ujian yang sepatutnya menaikkan derajat disisi ALLAH tidak diduduki dengan baik.

“Mereka yang ditimpa musibah mengucapkan,”Kita semua milik ALLAH dan kepada ALLAH kita akan kembali.Mereka itulah yang akan mendapat keberkahan sempurna dan rahmat dari TUHAN mereka dan juga mendapat petunjuk .”(Surah AL-BAQARAH, ayat 156-157).

Sakit, banyak problem, banyak masalah, banyak kesulitan hidup,,,,,,,,,,,bersabar dan terus berharap kepada  ALLAH….

Para Pencerah dari Kegelapan

May 8, 2008 at 1:18 am | Posted in Motivasi Hidup | Leave a comment

Jawapos, Kamis, 08 Mei 2008,

.

Sekolah luar biasa membutuhkan guru-guru yang luar biasa. Di Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) Surabaya, ada beberapa guru yang lebih dari luar biasa. Meski tunanetra, mereka mampu berbuat jauh lebih dahsyat dari guru-guru kebanyakan. Memberi pencerahan walau hidup dalam kegelapan.

Zainul Muttaqin, 38, mengawali harinya dengan penuh semangat. Dia berjalan kaki dari rumah kosnya di Jalan Kedung Klinter Surabaya menuju Sekolah Dasar Luar Biasa-A Yayasan Pendidikan Anak Buta (YPAB) di Jalan Tegalsari. Dengan bantuan tongkat, guru tunanetra itu berjalan sekitar 300 meter menuju sekolah tempatnya mengajar.

Zainul merupakan salah seorang di antara sejumlah guru luar biasa di YPAB. Mulai tingkat TK sampai SMA, ada 15 guru tunanetra di sekolah tersebut. Sebanyak tiga orang masuk kategori low vision, 12 lainnya -termasuk Zainul- buta total.

Meski hidup dalam kegelapan, Zainul dan beberapa guru tersebut punya kemampuan untuk memberi pencerahan lebih daripada guru-guru kebanyakan. Mereka bukan hanya mampu “mengalahkan” keterbatasan, mereka terus mendorong diri, meningkatkan kemampuan hingga tingkat yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Bandingkan saja Zainul dengan guru-guru kebanyakan. Zainul menyandang gelar master. Padahal, sangat jarang guru yang mengenyam pendidikan hingga S-2. Biasanya hanya kepala sekolah yang punya gelar master.

Bukan hanya itu, Zainul sekarang berkutat dengan siswa-siswa yang memberi “tantangan ganda”. Bukan sekadar tunanetra, siswa-siswa yang berada di bawah panduan Zainul juga tergolong tunagrahita atau terbelakang mental.

Kesabaran saja tidak cukup untuk menjalani pekerjaan sehari-hari Zainul. Butuh ketekunan dan kreativitas tinggi untuk melakukannya.
***
Zainul tidak lahir buta. Lahir di Ponorogo, 26 Januari 1970, dia sempat melihat terangnya dunia hingga usia enam tahun. Saat itulah bencana menimpanya dan kakak kandungnya, Mohammad Ahyar, yang tiga tahun lebih tua.

Saat itu, layaknya anak kecil lain, Zainul sangat senang bermain petasan karbit. Celaka, salah satu petasan itu meledak lebih cepat dari perkiraan. Percikan api mengenai wajah Zainul dan sang kakak. Mereka langsung dilarikan ke rumah sakit di Ponorogo.

Sayang, mereka tidak mendapatkan perawatan yang semestinya. Dokter hanya memperhatikan luka yang di luar saja (wajah). Akibatnya, ketika mata Zainul dan sang kakak mulai mengalami gangguan, kondisinya sudah parah. Karena terlambat penanganan, mereka pun menjadi buta.

Kehilangan penglihatan bukan berarti kehilangan semangat. Zainul terus berupaya mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Untuk mendapatkan pendidikan sebaik mungkin, Zainul pindah ke SLB-A Jogjakarta. Dasar pejuang, dia berhasil masuk SMP dan SMA umum di Jogjakarta. Hingga akhirnya dia lulus dari Pendidikan Agama Islam (PAI) Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Jogjakarta, pada 1997.

Sejak masuk kuliah itu pula Zainul punya cita-cita menjadi seorang guru. Khususnya guru anak-anak tunanetra. Dia ingin menolong anak-anak lain yang senasib dengannya. “Saya yakin, guru-guru buta dapat lebih memahami kebutuhan para siswa tunanetra,” ucapnya.

Hanya saja, cita-cita mulia itu tak bisa didapat dengan mudah. Dua kali dia mengikuti tes menjadi guru, dua kali pula dia ditolak. Menurut Zainul, pada 1997-1998, guru-guru buta memang hampir tak memiliki tempat.

Sempat putus asa, empat tahun lamanya Zainul berlabuh di Jakarta (1999-2002). Dia bekerja di sebuah perusahaan pengiriman barang. “Cukup lama saya bertahan di sana. Bekerja di bagian credit control yang mengurusi tagihan pembayaran pengiriman,” kenangnya.

Baru pada 2002 impian Zainul menjadi kenyataan. Dia mengikuti tes masuk pegawai negeri sipil (PNS) di Bandung. Diterima, dia ditempatkan di SDLB-A YPAB Surabaya.
***
Ketika kali pertama mengajar di Surabaya, Zainul mengaku metode-metodenya biasa-biasa saja. Seperti kebanyakan guru, dia memakai metode ceramah atau “asal anak bisa”. Tapi, lama-kelamaan dia menyadari bahwa kualitasnya harus ditingkatkan. Anak-anak yang dia tangani menuntut cara-cara yang lebih baik. “Saya sadar, saya tidak bisa membawa mereka menuruti metode saya,” ujarnya.

Setelah tiga tahun mengajar, pada 2005 Zainul meninggalkan Surabaya untuk sementara. Mengejar gelar master di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung. Dia termasuk beruntung, mendapatkan beasiswa dari Indonesian Development Program dan Helen Keller International. Sesuai keinginan, Zainul mengambil jurusan pendidikan kebutuhan khusus dengan konsentrasi pendidikan inklusi.

“Di kampus, saya mendapatkan banyak pengetahuan mengenai anak-anak berkebutuhan khusus itu,” ujarnya.

Lulus pada pertengahan 2007, Zainul pun kembali ke Surabaya. Kembali melanjutkan tugasnya di SDLB-A YPAB. Dengan ilmu baru yang dimilikinya, Zainul pun mengucapkan salam perpisahan kepada metode belajar ala Plato yang hanya bisa berceramah dalam menerangkan pelajaran kepada anak-anak didiknya.
***
Dengan modal ilmu baru, Zainul mendapatkan tantangan luar biasa. Dia tidak hanya mengajar agama Islam untuk kelas 3 sampai kelas 6, dia juga diminta untuk menjadi wali kelas 2.

Di kelas 2 itu, siswanya memang hanya dua orang. Tapi mereka juga memiliki cacat ganda (double handicap). Bukan sekadar tunanetra, kedua anak itu juga tergolong tunagrahita atau terbelakang mental.

Zainul sadar betul beratnya tantangan itu. “Guru normal mungkin agak segan mengajar anak-anak seperti itu,” ucapnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, kesabaran dan kreativitas Zainul pun diuji. Dua siswanya sama-sama membutuhkan perhatian istimewa. Mereka adalah Anggrid Rizeka Praningdyah, 11, dan Eliezer Selwyn Horman, 10.

Anggrid adalah bocah yang ceria. Tapi menurut Zainul, terkadang dia malas dan mood-nya ngalor-ngidul. Yang lebih susah, dia tak suka menjawab ketika ditanya, meskipun sebetulnya dia sudah tahu jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan. Anggrid lebih memilih untuk menceritakan hal-hal lain yang tidak ditanyakan.

Tak heran, sebelum ditangani Zainul, selama lima tahun belajar di sekolah itu, Anggrid masih duduk di kelas 2 dan baru bisa menghafalkan dua huruf braille saja.

Kalau Eliezer agak berbeda. Dia suka sekali membeo. “Dia mengoceh setiap saat dan selalu menirukan kata-kata saya,” ungkap Zainul.

Lalu, bagaimana Zainul mengatasi tantangan terberat seorang guru ini? Dia memanfaatkan “kelemahan” kedua siswanya, mengubahnya menjadi kelebihan.

Anggrid, yang suka bercerita hal-hal di luar pertanyaan, malah dijadikan Zainul sebagai “narasumber.” Dia berusaha membuat ocehan-ocehan Anggrid menjadi lebih terstruktur dengan menyelipkan pertanyaan-pertanyaan. Sehingga, saat mengoceh, Anggrid juga dipaksa berpikir keras.

Misalnya saat Anggrid asyik bercerita tentang keinginannya untuk mengunjungi teman-teman. Zainul mengarahkan alur cerita Anggrid. “Anggrid naik apa ke sana? Sampai di sana mau tanya apa?” kata Zainul.

Mau tak mau, Anggrid yang mengoceh juga dipaksa berpikir untuk membuat ceritanya lebih komplet dan runtut. “Saya naik mobil Pak,” jawab Anggrid.

Supaya Anggrid cepat hafal huruf-huruf braille, Zainul menggunakan metode bernyanyi. Dia membuatkan lagu khusus untuk sang murid, melafalkan tempat-tempat titik huruf braille berada. “A titik satu, B satu dua, C satu empat, D satu empat lima…” dendangnya diikuti Anggrid.

Dengan metode itu, hanya dalam beberapa bulan, Anggrid sekarang sudah dapat menghafalkan huruf hingga “S.”

Sedangkan untuk kasus Eliezer, kebiasaannya menirukan ucapan-ucapan Zainul dimanfaatkan sebagai ajang belajar menghafal. Zainul memasukkan poin-poin pendidikan, seperti, “Wortel mengandung vitamin A. Jeruk mengandung vitamin C.”

Dan benarlah, Eliezer langsung mengulangi persis kata-kata yang diucapkan Zainul. “Eliezer cepat hafal kata-kata yang diucapkan berulang-ulang,” tuturnya.

Tentu, di luar pendidikan akademik, Zainul tak lupa memasukkan nilai-nilai etika kepada para siswanya. Misalnya cara bertutur, bergaul, dan menghormati orang lain.

Anak-anak tunanetra, misalnya, harus diajari cara menguap. Sebab, mereka tidak bisa melihat dan mencontoh bahwa saat menguap sebaiknya mulut mereka ditutup.

“Anak-anak cacat biasanya diperlakukan berbeda dalam keluarga. Mereka cenderung dibiarkan melakukan apa pun walau salah. Itu tidak benar,” kata Zainul.

Jadi, di sekolahlah Zainul dapat beraksi mengajari cara bertutur yang sopan dan baik. Ketika Eliezer berteriak misalnya, Zainul langsung mengingatkannya untuk memelankan suara.

Sebab, target Zainul tak hanya membuat mereka menjadi pandai. Tapi juga membuat mereka mampu bersosialisasi. Zainul ingin siswanya kelak mampu menembus sekolah-sekolah umum. Dan mampu mengenyam pendidikan setinggi mungkin.

***
Puaskah Zainul dengan segala yang dicapainya? Pria yang punya hobi browsing situs-situs pendidikan itu mengaku ingin terus meningkatkan diri.

Saat ini, dia sedang memasukkan aplikasi beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di S-3. Dia melamar di jurusan yang sama (pendidikan inklusi) di kampus yang sama (Universitas Pendidikan Indonesia Bandung).

Kebutuhan anak-anak istimewa tersebut ingin terus dia pahami, supaya dia bisa menjadi guru yang lebih baik lagi. “Saya tak akan melepas profesi saya sebagai guru. Saya merasa memiliki dasar sebagai pendidik,” tuturnya. “Ditawari profesi lain, dengan bayaran setinggi apa pun, saya akan tetap mempertahankan posisi saya sebagai guru,” tegasnya. (anita rachman/aza)

Blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.